Sabtu, 05 Maret 2011

Panen raya dimulai, Kementan minta Bulog stop impor beras

Kamis, 03 Maret 2011 | 19:20 oleh Herlina KD

PANEN RAYA Panen raya dimulai, Kementan minta Bulog stop impor beras
JAKARTA. Masa paceklik tampaknya sudah usai. Mulai akhir Februari 2011, sebagian petani juga telah memasuki masa panen. Dengan kata lain, Indonesia sudah bisa melakukan produksi beras di dalam negeri. Karenanya, Kementerian Kehutanan (Kementan) meminta Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk menghentikan impor beras.

Menteri Pertanian Suswono mengatakan, saat ini sudah memasuki panen raya, sehingga Bulog sudah bisa melakukan penyerapan beras dari dalam negeri. "Jadi sebaiknya beras impor ditahan dulu di negara asalnya. Kalaupun beras ini sudah masuk dalam komitmen (kontrak) atau sudah menjadi milik Bulog itu tetap ditahan dulu sebagai cadangan pangan nasional," katanya seusai penandatanganan nota kesepahaman (MoU) Kementan dengan BPS di Jakarta Kamis (3/3).

Catatan saja, peraturan mengenai impor beras diatur dalam Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No.57/MPP/Kep/5/2004 mengenai ketentuan impor beras. Dalam pasal 3 ayat 1 disebutkan impor beras dilarang dalam masa satu bulan sebelum panen raya, selama panen raya dan dua bulan setelah panen raya.

Suswono bilang, panen raya dimulai sejak Maret - April. "Panen ini akan berlangsung hingga Juni," katanya. Sehingga, jika mengikuti aturan ini, maka Bulog baru bisa memasukkan beras impor kembali dua bulan setelah Juni atau sekitar September. Jika mengikuti perhitungan Kementan, maka seharusnya Bulog memasukkan beras impornya sampai akhir Februari.

Suswono juga bilang dengan ada panen raya, maka beras impor hanya akan digunakan sebagai stok pangan di daerah-daerah bukan penghasil beras seperti Maluku dan Papua. Sehingga, "Saat kekurangan suplai, Bulog sudah memiliki stok untuk di daerah-daerah ini," katanya.

Idealnya, saat panen raya beras impor tidak boleh masuk ke semua wilayah di Indonesia. Hanya saja, ini sangat tergantung pada penyerapan beras dalam negeri. "Harapannya, penyerapan Bulog bisa optimal dari dalam negeri, sehingga kebutuhan beras di daerah di luar daerah sentra produksi bisa dipenuhi dari penyerapan dalam negeri," jelasnya.

Berdasarkan Angka ramalan I BPS produksi beras nasional naik 1,35% menjadi 67,31 juta ton gabah kering giling (GKG). Dengan perkiraan ini, dan mencermati pengalaman produksi pada tahun-tahun sebelumnya, realisasi produksi tahun ini maksimal hanya akan tumbuh 4%. 

Makanya mulai tahun ini Kementan menggenjot produksi dan mengamankan produksi beras nasional. Caranya, "Kita terjun kan peneliti dan penyuluh di 193 kabupaten dan kota sentra produksi padi," jelasnya.

Direktur Utama Bulog Sutarto Alimoeso mengungkapkan, semua masalah yang terkait dengan impor beras diputuskan dalam rapat koordinasi terbatas (rakortas) di tingkat Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian). "Kalau dari hasil rakortas, keputusannya impor itu sampai tanggal 31 Maret, dan itu akan kita penuhi," ujarnya.

Ia menambahkan, hitungan 31 Maret ini sudah dihitung sesuai dengan aturan impor beras yang berlaku. Menurut Sutarto, sebenarnya aturan mengenai impor beras ini lebih ditujukan bagi impor bebas, artinya impor beras yang dilakukan oleh importir umum atau importir swasta.

"Tapi ini kan impor untuk stok pemerintah, sehingga sebenarnya kalau menurut saya tidak usah terlalu didikotomikan dan tidak perlu dikontroversikan, karena ini untuk kepentingan beras pemerintah," jelas Sutarto.

Mantan Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan ini juga menegaskan pemerintah akan menyerap beras dari petani. "Bulog tetap menjamin kalau harga turun, apalagi sampai di bawah HPP Bulog akan tetap beli beras petani. Bahkan, Bulog sudah membuka L/C di semua daerah," ungkapnya.

Catatan saja, berdasarkan data Laporan Pemantauan Harga dan Distribusi Barang Kebutuhan Pokok yang dirilis oleh Kementerian Perdagangan, realisasi pengadaan beras luar negeri pada bulan Februari tahun 2011 hingga 2 Maret 2011 sebesar 356.545 ton. 

Realisasi pengadaan beras luar negeri tahun 2010 -2011 hingga 2 Maret 2011 sebesar 1.262.335 ton, dari nilai kontrak pengadaan beras luar negeri tahun 2010 - 2011 sebesar 1.898.000 ton.

Sutarto bilang, Bulog akan tetap merealisasikan impor beras sesuai dengan perintah dari pemerintah. "Kami akan tetap menyelesaikan perintah dari pemerintah. Semuanya sudah dikontrak dan akan masuk sampai tanggal 31 Maret 2011," jelasnya.

Menurutnya, beras impor ini sudah masuk melalui beberapa pelabuhan di seluruh Indonesia seperti di Lhokseumawe (Aceh), Belawan (Sumatra Utara),Teluk Bayur (Padang), pelabuhan Bengkulu, Ciwandan (Banten) dan Tanjung Perak (Jawa Timur). Khusus untuk pelabuhan Tanjung Perak adalah pelabuhan transit yang digunakan untuk mendistribusikan beras impor ini ke Indonesia bagian timur.

Beras impor ini, kata Sutarto langsung didistribusikan ke daerah yang membutuhkan jadi ini langsung didistribusikan ke semua daerah yang kekurangan seperti Papua, Bali, NTT, NTB, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, dan Palu (Sulawesi Tengah). "Untuk daerah yang surplus seperti Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan tidak diberikan karena sudah surplus," ungkapnya.





gan,
1. masalah penyerapan beras itu masalah distribusi, kewenangannya ada di kemendag atau bulog ya?
2. aturan mengenai impor beras hanya diberlakukan ke importir swasta, emang volume impor swasta itu berapa besar? kalau lebih kecil atau malah jauh lebih kecil dari impor pemerintah, peraturan itu ngga berdampak apa2 dong. kesian petani lokal.

gue ngga ngerti urusan ini 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar