Rabu, 30 Maret 2011

Pendapatan per Kapita Bisa Tembus USD5.000


Pemerintah meyakini pendapatan per kapita masyarakat Indonesia bisa menembus angka USD5.000 pada 2014. Sektor industri dituntut siap menghadapi situasi tersebut. 

Pendapatan per kapita Indonesia kini menyentuh level USD3.000. Kondisi perekonomian nasional yang terus terakselerasi sejak 2009 dinilai sebagai momentum untuk mendongkrak pertumbuhan pendapatan masyarakat Indonesia. Pertumbuhan pendapatan per kapita Indonesia sejak 2007 hingga 2010 terus meningkat. “Angka pendapatan per kapita mencapai USD5.000 bukan sesuatu yang gila dan bukan hal yang mustahil dicapai,” ungkap Sekretaris Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Sestama Bappenas Syahrial Loetan di Jakarta kemarin. 

Menurut pengamat ekonomi Universitas Indonesia Firmanzah, konsekuensi yang akan dihadapi jika pendapatan per kapita menjadi USD5.000 adalah tingkat konsumsi masyarakat yang semakin besar. Kondisi ini dapat dipastikan terjadi mengingat pola pertumbuhan ekonomi nasional yang ditopang lebih besar dari kontribusi konsumsi masyarakat. ”Akan lebih banyak barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat, akan muncul barang- barang baru dalam jumlah yang cukup besar yang saat ini tidak dikonsumsi masyarakat,” ujar Firmanzah kepada SINDO tadi malam.

Jika sektor industri tidak siap dan persediaan kebutuhan masyarakat tidak terpenuhi, harga kebutuhan masyarakat dapat terdorong naik.Menurut dia, kebutuhan masyarakat akan barang dan jasa juga akan mengalami pergeseran. Dengan meningkatnya pendapatan,jenis kebutuhan akan semakin beragam. Dekan Fakultas Ekonomi UI ini mengatakan,setidaknya ada beberapa hal yang harus dicermati untuk menjawab tantangan tersebut. Sektor pariwisata diharapkan lebih siap. Dengan bertambahnya pendapatan, masyarakat akan mencari kebutuhan wisata yang lebih berkualitas. 

”Kalau sektor pariwisata tidak siap,bisa saja orang Indonesia akan lari ke Malaysia atau Singapura yang mungkin lebih baik,”imbuhnya. Barang-barang jenis elektronik yang saat ini banyak dikonsumsi diperkirakan akan semakin banyak dan ada semacam tuntutan dari sisi teknologi pendukungnya. Dia juga melihat ada pergeseran pola transaksi dalam proses jual beli barang dan jasa. Hal ini tidak bisa dipungkiri karena masyarakat yang berpendapatan USD5.000 termasuk golongan kelas menengah yang mengutamakan kemudahan dalam bertransaksi. 

”Kesiapan teknologi informasi berupa broadband untuk transaksi digital perlu disiapkan sejak sekarang karena saat ini saja masyarakat sudah mulai terbiasa transaksi digital,” tandasnya. Pada 2007 pendapatan per kapita berada pada level USD 1946 atau sekitar Rp17,9 juta per tahun dengan produk domestik bruto (PDB) mencapai RP3.957 triliun. Pada 2008 pendapatan per kapita meningkat menjadi USD2.629 atau sekitar Rp21,7 juta dengan PDB mencapai Rp4.954 triliun. 

Di tengah krisis keuangan yang menghantam dunia pada 2009 pendapatan per kapita Indonesia mampu menembus level USD2.590 atau berkisar pada Rp24,3 juta dengan PDB mencapai Rp5.613 triliun.Tahun lalu pendapatan per kapita Indonesia mencapai USD3.000 atau sekitar Rp27 juta dengan PDB hingga Rp6.422 triliun. Pemerintah menargetkan pendapatan per kapita pada lima tahun mendatang minimal bisa menembus level USD4.803 dengan PDB yang ditargetkan menembus USD1.206 miliar. 

Angka pendapatan per kapita yang saat ini mencapai USD3.000 diyakini sebagai batu lompatan untuk meraih pendapatan yang lebih besar. Di beberapa negara, ketika sudah mencapai pendapatan per kapita pada level tersebut, ke depan menghasilkan efek ganda atau multiplier effect bagi ekonomi nasional. Pertumbuhan pendapatan per kapita yang semakin besar turut serta mendorong peningkatan kelas menengah masyarakat Indonesia yang menurut laporan Bank Dunia bertambah 50 juta jiwa sejak 2007. 

Syahrial menjelaskan, untuk mencapai pendapatan per kapita minimal USD4.803 pada 2014, Indonesia sudah memiliki modal cukup. Laju pertumbuhan ekonomi nasional yang terus terakselerasi hingga 2010 menjadi kunci sekaligus pendongkrak pertambahan pendapatan masyarakat. “Momentum ini harus dijaga dan terus didorong.Momentum ini sebagai modal.Kalau target pertumbuhan (ekonomi) pada 2014 bisa 7%,PDB per kapita bisa sesuai target juga,”ungkapnya. 

Pengamat ekonomi dan bisnis Yuswohady menilai, bergeraknya roda perekonomian nasional turut serta mendorong daya beli masyarakat. Salah satu faktor penting yang tidak bisa dilepaskan dari meningkatnya daya beli adalah pendapatan per kapita Indonesia yang saat ini menyentuh angka USD3.000 sejak 65 tahun merdeka. Yuswo menyebutkan, kini golongan kelas menengah semakin banyak. Semakin besar pula kemungkinan barangbarang mewah dapat dimiliki masyarakat. 

“Indonesia sekarang dalam proses cepat menjadi negara maju. Di negara maju, tidak ada produk atau barang yang masuk kategori mahal,” tegas Yuswohady. Saat ini Indonesia masuk dalam salah satu negara emerging market dengan middle income country atau negara berkembang dengan pendapatan menengah. Dia mengingatkan pentingnya menjaga dan mendorong pendapatan per kapita. Indonesia bisa menjadi salah satu negara dengan kekuatan ekonomi besar di dunia jika mampu memanfaatkan momentum.


Semoga saja bisa terealisasi pak..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar