Rabu, 30 Maret 2011

Saatnya Menggugat Televisi


Senin, 28/03/2011 09:00 WIB 


Televisi atau TV sudah menjadi bagian dari kehidupan yang tak terpisahkan dari semua anggota masyarakat. Memiliki TV juga sudah menjadi barang kebutuhan primer, karena semua orang mampu dan butuh terhadap TV. Akan tetapi, semua stasiun TV swasta di Indonesia patut digugat, karena semua stasiun TV telah memberikan tambahan keburukan terhadap kehidupan dan nilai sosial masyarakat Indonesia yang sedang mengalami degradasi. Hal tersebut bukan berarti menafikan peran TV sebagai salah satu sarana hiburan dan informasi, tetapi hiburan dan informasi yang disampaikan haruslah mendidik para pemirsa.
Ada lima jenis acara TV yang patut digugat, yaitu acara berita, sinetron, reality show, pentas musik dan gosip. Pertama patut digugat adalah acara berita. Memang berita adalah sesuatu yang sangat penting karena bisa mencerdaskan anggota masyarakat dengan menyuguhkan berbagai informasi aktual. Akan tetapi, akhir-akhir ini masyarakat diresahkan dengan sering munculnya berbagai berita yang tidak adil, berimbang, dan tendensius di TV.
Berita yang berat sebelah dan ditumpangi berbagai kepentingan politis bisa menyebabkan hadirnya keresahan di masyarakat. Bahkan pernah ditayangkan berita yang tidak akurat ketika terjadi letusan gunung Merapi yang lalu, sampai menyebabkan kepanikan di masyarakat dan menyebabkan korban meninggal dunia.
Acara kedua yang harus digugat adalah sinetron. Simaklah, bagaimana sinetron-sinetron kita yang selalu memilih setting rumah mewah, dengan gaya hidup yang glamor, kemudian memainkan peran yang sarat dengan konflik dan perselingkuhan, mistik, pembunuhan, perebutan harta, dan sebagainya. Memang tidak semua sinetron mengajarkan yang demikian, seperti Si Doel Anak Sekolahan dan Keluarga Cemara. Tetapi sinetron yang ada sekarang ini memang sebagian besar begitulah keadaannya. Tentu sinetron dengan kandungan atau muatan seperti itu jelas sangat menyesatkan masyarakat umum. Tidak memberikan daya dorong masyarakat untuk semakin maju dan mau bekerja keras, tetapi malah mencari jalan pintas dan menghalalkan segala cara untuk mencari harta. 
Kesemuanya sinetron yang menggambarkan tema di seputar seks, kekerasan dan mistik, serta glamornya kehidupan elite kota ternyata sangat laku dan diminati masyarakat, karena masyarakat sudah tumpul intuisinya. Pasalnya, masyarakat setiap hari dibombardir oleh sinetron yang tidak bermutu sehingga merasa tidak ada pilihan lain lagi.

Mengumbar Kejelekan
Acara TV ketiga yang harus digugat adalah reality show. Acara-acara reality show pun sebagian besar, meski tidak semua, justru mengajarkan masyarakat untuk belajar mengumbar aib diri sendiri dengan tujuan menghibur orang lain. Acara-acara yang isinya hanya mengumbar kejelekan sendiri, keluarga, atau siapa pun jelas tidak layak ditonton.
Seharusnya acara reality show itu mengajarkan masyarakat untuk benar-benar membuka cakrawala berpikir. Bukan justru mengarahkan masyarakat untuk senang mengumbar aib. Belum acara reality show yang seharusnya dibuat berdasarkan kenyataan, sesuai namanya, malah justru banyak direkayasa karena acara tersebut jelas-jelas sudah diatur sedemikian rupa agar menarik pemirsa. Meskipun jelas tidak sesuai realita kehidupan nyata lagi.
Acara keempat yang harus digugat adalah acara musik. Sebagian besar acara musik yang ditayangkan oleh TV swasta, bahkan kebanyakan dari mereka disiarkan secara langsung (live), ditayangkan pada pagi hari. Bisa dilihat bahwa pada acara-acara musik tersebut selalu dipenuhi para remaja yang seharusnya belajar di sekolah, kampus atau bekerja.
Dengan adanya acara musik di pagi hari, telah memancing para remaja, baik yang sekolah maupun kuliah untuk membolos hanya untuk menonton acara musik. Dengan demikian berarti secara tidak langsung acara musik di TV patut disalahkan sebagai pemicu tingginya angka bolos sekolah, karena terbukti dengan banyaknya remaja baik yang berseragam sekolah maupun yang tidak, asyik menikmati acara pertunjukan musik. Generasi macam apa yang akan dihasilkan dari tayangan yang tidak mendidik karena menggunakan waktu efektif untuk berlonjak-lonjak di acara musik di pagi seperti itu? Acara musik juga banyak yang menjurus kepada pergaulan bebas dan hedonisme.
Acara kelima yang patut digugat adalah acara mengandung gosip atau infotainment. Acara gosip atau infotainment wajib dituntut karena telah mengajarkan masyarakat untuk membuka aib seseorang sekaligus membicarakannya tanpa merasa bersalah. Jelas sekali sebagian besar acara-acara gosip atau infotainment lebih menonjolkan sensasi daripada objektivitas, membesarkan hal-hal kecil yang tidak perlu, dan mengajak masyarakat “mendewakan” para artis. 
Padahal kehidupan pribadi para artis sendiri belum layak dicontoh. Misalnya gaya pakaian yang cenderung seronok dan pergaulan yang cenderung bebas seperti cium pipi kanan pipi kiri oleh lawan jenis dan tidak memiliki hubungan keluarga. Kesemua hal itu jelas akan menjadi contoh yang tidak baik bagi masyarakat, terutama generasi muda yang masih suka mengidolakan seseorang tanpa bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk.
Menonton TV merupakan hak masyarakat dan stasiun TV seharusnya memahami hal tersebut dengan memberikan tayangan yang bermutu. Bukan justru memanfaatkan kenaifan masyarakat untuk kepentingan pihak tertentu, seperti kepentingan politik dan iklan. Stasiun TV harus bertanggung jawab dengan adanya dekadensi moral yang melanda generasi muda, karena sebagian besar pelanggaran moral dan norma-norma justru didapatkan melalui TV.
Menggugat TV bukanlah hanya dengan mengajukan gugatan hukum ke pengadilan untuk melaporkan stasiun TV yang telah menyiarkan acara yang tidak bermutu dan tidak mendidik. Hal tersebut sebenarnya mungkin saja, tetapi terlalu dan sangat kecil tingkat efektivitasnya. Sudah seharusnya semua anggota masyarakat menggugat TV dengan selektif dalam memilih acara TV untuk ditonton. Jangan sampai kita mengorbankan diri kita dan anak-anak kita hanya karena mencari hiburan semata. n


ini tulisan ane gan, kemarin di harian joglosemar, solo. thanks a lot for komeng ame rate 5 str nya ye.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar