Minggu, 20 Maret 2011

[REVIEW] 'Child's Eye': Anak-anak yang Bisa Melihat Hantu


Mungkin banyak yang tidak sependapat dengan saya kalau saya bilang bahwa 'Child’s Eye' film yang oke. Memang, film termutakhir dari Pang Bersaudara ini mengecewakan banyak penggemarnya.

Entah apa karena istri saya sedang hamil (ya, film ini erat kaitannya dengan kehamilan) atau karena saya waktu itu nonton di bioskop yang besar sekali tapi hanya diisi dua orang? Atau, karena saya penggemar Danny dan Oxide Pang? Entahlah.

Memang, film ini tidak sedahsyat 'The Eye', film mereka yang beredar pada 2002 lalu. Dan, juga tidak banyak eksplorasi dan eksperimentasi seperti dalam 'Bangkok Dangerous' (yang versi 1999, bukan yang versi Nicholas Cage). Tapi, dari segi horor, film ini cukup menakutkan, bukan sekadar mengagetkan.

Memang, formulanya masih itu-itu saja --namanya juga film genre, ya formulaic. Tapi, walau pun kita sudah mempersiapkan diri, misalnya kita sudah bisa menebak di satu adegan tertentu pasti hantunya datang, tapi tetap saja kita merasa terteror.

Film berkisah tentang tiga pasangan muda asal Hong Kong yang berlibur ke Thailand. Karena ada pergolakan politik dan demonstrasi besar-besaran, mereka tidak bisa ke bandara atau kembali ke hotel. Maka tibalah mereka ke sebuah hotel yang lain, dan di sanalah kisah seram dimulai (tipikal film horor standar, bukan?)

Semua berawal dari tiga anak kecil beserta anjing mereka yang ketakutan tatkala pasangan muda itu datang. Mereka memandang ketakutan kala di tangga, atau menatap seram ke bangku kosong saat para pelancong itu makan. Dan, kala para turis itu melihat kerusuhan politik, dan terkena gas air mata, mereka pun melihat hantu hijau perempuan, dengan pose tangan atau wajah yang seperti mau meloncat, tipikal shot 3D. (Sayang versi 3D tidak masuk Indonesia).

Maka, mengalirlah sebuah cerita bahwa hotel ini dulunya dimiliki pasangan suami-istri yang memelihara banyak anjing. Suatu saat, sang suami digigit salah satu anjing itu, lalu dia membunuhi seluruh anjing, termasuk sang istri. Kini, tinggal sang suami yang menjalankan bisnis itu, dan hantu sang istri masih bercokol di sana. Apa yang terjadi?

Suasana lebih menyeramkan ketika justru tidak ada penampakan dari hantu. Dan, bukan Pang Brothers namanya jika tidak menyiapkan kejutan beberapa lapis.

Tentu kelemahan ada di sana-sini. Mungkin sudah "takdir"-nya bahwa film berformat 3D lebih mementingkan efek khusus daripada cerita, walau di film ini, skenario juga cukup logis dan tidak jelek-jelek amat.

Inti film ini sebenarnya bukan pada aktivitas anak-anak yang bisa melihat hantu tersebut, tapi lebih pada sebuah "pesan moral" tentang "urusan rumah tangga yang belum selesai" --sebuah muatan nilai yang menurut saya jarang ada di film horor Indonesia yang kebanyakan cuma buat menakutkan, eh, mengagetkan penontonnya.

Satu lagi kekurangan film ini, konflik terasa agak tergesa-gesa diselesaikan di akhir cerita.
Peringatan: wanita hamil, dan mungkin juga pencinta anjing, sebaiknya tidak menonton film ini, tanpa ditemani seseorang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar