Selasa, 08 Maret 2011

(BERITA) BOROK dunia PERWASITAN NASIONAL selama INI DIBUKA!!

TAK sedikit wasit dan pengawas pertandingan (PP) PSSI yang meloncat ke LPI yang digagas pengusaha nasional Arifin Panigoro. Di Jateng terdapat 20 PP dan 50 wasit yang memilih jalur itu.

Mereka berasal dari Semarang, Surakarta, Magelang, Kendal, Sragen, dan beberapa daerah lainnya. Dari 20 PP (sebutan di LPI match commissioner) tersebut, enam di antaranya sudah bertugas. Sementara yang lainnya masih menunggu mandat dari konsorsium LPI.
Begitu pula dengan wasit. Tiga orang menjadi wasit utama, 13 lainnya menjadi asisten wasit. Sementara 34 wasit lainnya juga masih menunggu mandat dari Konsorsium LPI.

Koordinator Wasit dan PP LPI Jawa Tengah Achmadi menjelaskan, tidak ada paksaan untuk berpindah jalur. Semuanya atas keinginan pribadi. Mereka mengikuti LPI atas suara hati nurani. Meski banyak pihak yang menentang, tekad pindah ke LPI sudah bulat. 
’’LPI menjanjikan perubahan. Kompetisi lebih bersih dan fair play. Semuanya bertindak sesuai dengan aturan. Tidak ada tekanan lagi dari tuan rumah yang menginginkan kemenangan,’’ jelas mantan PP Pengcab PSSI Kota Semarang itu.

Dia mengungkapkan, selama bertugas menjadi wasit PSSI, tak jarang menjumpai tim tuan rumah yang memesan kemenangan. Karena kebiasaan yang sudah membudaya tersebut, tim tamu sudah pesimistis bisa menang sebelum pertandingan berlangsung. 

Lain dengan cerita di LPI, kemenangan ditentukan penampilan kedua kesebelasan. Siapa yang lebih baik, maka dialah yang memenangi laga. Saat bertemu di technical meeting, tidak ada rasa curiga salah satu tim akan dikerjai.
‘’Saat itu, bila tidak ikut arus maka akan ditentang dan terancam tidak akan mendapat tugas lagi. Kini kondisinya berbeda, ada kompetisi yang lebih bersih. Baik wasit maupun PP dapat bertugas lebih baik karena tidak ada intervensi selama memimpin pertandingan,’’ ungkap pria kelahiran Semarang, 30 Mei 1963 itu.

Sebenarnya, ungkap Achmadi, kualitas wasit dan PP di Indonesia tidak kalah dibandingkan dengan wasit asing. Hanya saja aturan kompetisi di luar negeri lebih tegas, sehingga tidak ada tekanan dari salah satu tim. Berbeda dari Indonesia, apa saja bisa diraih dengan uang.
Hal itulah yang membulatkan tekadnya untuk memijakkan kaki ke LPI. Ia menegaskan, perlu perubahan dan reformasi di tubuh PSSI.

Lebih Dimanusiakan

Lain halnya dengan wasit Poniran yang juga berasal dari Semarang. Saat masih di PSSI, dia jarang diberi tugas. Padalah dia rutin mengikuti penyegaran setiap tahun. Penyegaran tersebut juga tidak gratis. Ia harus mengeluarkan uang lumayan banyak dari sakunya sendiri.
Dia tak ingin mempersoalkan masalah status. Memimpin pertandingan LPI ataupun PSSI sama saja, yaitu mengawal pertandingan seadil-adilnya.

‘’Di PSSI saya tidak pernah mendapat tugas memimpin pertandingan. Di LPI, saya sering mendapat tugas. Hal dasar yang membuat saya pindah ke LPI adalah mencari nafkah untuk keluarga,’’ jelas Poniran yang menjadi wasit sejak 1983.
Keduanya memiliki suara yang sama menanggapi pencabutan lisensi yang dilakukan PSSI bila mereka mengikuti LPI. Baik Poniran maupun Achmadi meminta agar PSSI mengembalikan uang yang telah dikeluarkan saat mengurus lisensi tersebut.
‘’Tidak sedikit uang yang dikeluarkan untuk mendapatkan lisensi. Namun, seenaknya saja PSSI mencabut lisensi kami. Di mana hati nurani para pengurus PSSI. Seharusnya mereka lebih bijak melihat situasi saat ini,’’ tambah Achmadi.

Sama halnya dengan wasit Sukiman. Dia mengusung prinsip profesional, mencari nafkah agar dapur tetap ngebul. Pasalnya, selama ini dia jarang sekali ditugasi PSSI memimpin pertandingan. Padahal, biaya yang sudah dikeluarkan untuk mendapatkan lisensi wasit cukup besar.
‘’Kalau menunggu penugasan PSSI, setahun paling hanya satu kali. Itu tidak sebanding dengan biaya yang kami keluarkan,’’ papar Sukiman yang akrab disapa Geong.

Karena itu, tawaran dari LPI untuk menjadi asisten wasit langsung diterimanya. Selama menjadi asisten wasit di LPI, dia sudah ditugaskan ke Manado dan Malang. Geong mengaku cocok bertugas di LPI.
Pasalnya, selama bertugas tidak ada tekanan dari manapun. Hal itu tidak seperti waktu bertugas di kompetisi PSSI. Tekanan terhadap perangkat pertandingan sangat besar untuk memenangkan tim tertentu, biasanya tuan rumah.
Tekanan-tekanan itu tidak hanya datang dari tuan rumah, tapi juga pejabat teras PSSI yang mendukung klub tersebut.
Jika hasil yang dicapai tidak sesuai dengan kehendak sang pejabat, wasit bisa tidak diberi tugas lagi. Tapi kalau berhasil, akan dipakai terus.
’Di LPI kami lebih dimanusiakan. Tidak ada tekanan. Kami sangat enjoy sehingga mampu bertugas maksimal,’’ kata Geong yang menjadi wasit sejak 1991.

Selain itu, imbuhnya, fasilitas yang diberikan oleh LPI juga lebih bagus daripada PSSI. Contohnya dalam hal penginapan. Selama bertugas di LPI, perangkat pertandingan ditempatkan di hotel berbintang 3 atau 4. Sedangkan di PSSI, wasit, wasit cadangan, dan dua asisten wasit sering diinapkan di hotel kelas melati.
‘’Honornya pun lebih besar di LPI. Wasit dibayar Rp 5 juta, asisten wasit Rp 3 juta, dan wasit cadangan Rp 2,5 juta. Di PSSI, bayarannya di bawah itu,’’ ungkapnya.
‘’Di LPI saya bisa memimpin dua kali sebulan. Itu jarang saya dapatkan waktu di PSSI. Hasil bayaran pun Insya Allah barokah, bisa bermanfaat bagi keluarga. Tapi kalau di PSSI, istilahnya duit setan dimakan demit, jadi habisnya cepat sekali,’’ tambahnya




TAK mudah menjadi wasit. Sebab, keputusan yang ditetapkan tidak selalu memuaskan banyak pihak. Lebih-lebih jika sang pengadil itu mendapat ”pesanan” dari orang-orang di jajaran vertikal institusinya, agar memenangkan klub tertentu dalam sebuah laga.

Belum lagi ”tekanan” dari kubu tuan rumah yang memberi tambahan uang transpor dan lain-lain agar perangkat pertandingan memberi keuntungan, demi memenangkan timnya pada partai tersebut. Situasi itulah yang melandasi keputusan Suwarto untuk hengkang dari lingkaran PSSI dan masuk ke ajang Liga Primer Indonesia (LPI).

Bertahun-tahun saya merasakan tekanan batin. Selalu ada ganjalan dan beban mental saat berada di tengah lapangan, karena bertentangan dengan hati nurani. Maka ketika LPI digulirkan, saya memutuskan untuk bergabung ke liga tersebut,” tutur Suwarto.

Satu dari delapan wasit nasional dari Solo itu mengaku tidak bisa memimpin pertandingan secara fair selama menjalankan tugas di lingkup PSSI. Pemegang sertifikat C1 sejak 2004 tersebut mengungkapkan, beberapa pengurus otorita tertinggi sepak bola di Tanah Air itu kerap memberi ”arahan” kepada para wasit.

Ada konsekuensi jika sang pengadil tidak mematuhinya. Yang sering terjadi, wasit yang tidak patuh jarang diberi tugas pada laga-laga berikutnya. Mereka yang tidak mendapat jatah tugas, tidak menerima bayaran. Sebab, bayaran diperoleh wasit setiap memimpin pertandingan. ”Jadi, mau tidak mau, kami harus manut pada atasan,” ungkap pria kelahiran Karanganyar, 45 tahun lalu itu.
Wanita Penghibur

Berapa bayaran yang diterima sekali memimpin laga, dia tidak bersedia menyebutkan. Apakah persoalan materi itu juga menjadi pertimbangan untuk hengkang ke LPI?

Apakah pendapatannya sebagai wasit di PSSI lebih sedikit ketimbang menjadi pengadil di kancah liga baru yang sering disebut sebagai kompetisi tandingan?
Suwarto tegas membantahnya. Pria yang kali terakhir bertugas pada home tournament kompetisi Divisi I di Blitar tersebut mengungkapkan, jika berhitung soal materi maka pendapatannya di pergelaran resmi PSSI bisa lebih besar.

”Yang membayar biaya wasit, tim tuan rumah. Biasanya, mereka memberi bonus seperti tambahan uang transpor dan uang makan disertai pesan untuk memenangkan timnya. Kalau di LPI yang membayar ya LPI, bukan klub. Jadi kami bisa benar-benar fair, profesional, dan merasa tenang di lapangan,” ujarnya.

Disinggung soal rumor ada bonus tambahan dari tuan rumah berupa layanan wanita penghibur, Suwarto mengatakan, ”Insya Allah hingga saat ini saya belum pernah mendapat tawaran itu. Dengar-dengar sih memang ada yang seperti itu, tapi saya belum pernah mengalaminya,” ujar lelaki yang merintis karier wasit sejak 1996 tersebut.

Mengenai risiko yang harus dia terima dari PSSI berupa pembekuan sertifikat wasit, guru sebuah sekolah di Kota Bengawan itu menyatakan telah mempertimbangkan secara matang sebelum mengambil keputusan. Namun dia mengaku belum menerima surat dari PSSI tentang pencoretan dirinya.
Dia juga menyatakan siap bersaing dengan wasit asing di LPI. Menurutnya, kehadiran para ekspatriat pengadil tersebut justru menjadi tantangan bagi para wasit nasional untuk lebih banyak belajar memimpin pertandingan secara profesional.

Saya terus membaca buku-buku tentang memimpin pertandingan dan mencermati berbagai tayangan sepak bola di televisi. Kami semua berharap LPI terus profesional seperti sekarang, sehingga wasit yang nantinya kurang baik memimpin tidak ditugaskan,”tegasnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar