Minggu, 03 April 2011

Tunjukkan Batas Negara, Soeharto Mancing


BATAM, KOMPAS.com — Pakar politik Zamzami A Karim mengatakan, almarhum Soeharto saat masih menjabat sebagai Presiden RI menunjukkan kedaulatan negara dengan cara memancing di tengah laut yang berbatasan dengan negara lain.

”Ketika seorang kepala negara memancing, radius pengamanan oleh aparat sangat luas dan sekaligus melambangkan kemampuan menjaga keamanan dan kedaulatan atas wilayah laut,” kata Zamzami yang juga Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Stisipol) Raja Haji Tanjungpinang dalam Seminar I Pemberdayaan Wilayah Perbatasan di Universitas Internasional Batam.

Dalam seminar yang diselenggarakan Lembaga Kajian Strategis Ekonomi Politik Perbatasan itu, Zamzami mengatakan, cara Presiden Soeharto ketika itu sederhana dan sebaiknya ada pejabat pemerintah kini yang meniru hal itu di perbatasan laut Kepulauan Riau (Kepri).

Kedaulatan Indonesia dalam hal ini di Kepri yang 96 persen terdiri atas laut dan 2.408 pulau besar dan kecil, menurut Zamzami, perlu dijaga dengan kekuatan, serta diplomasi, dan manajemen perbatasan yang berperspektif kelautan disertai pendekatan kesejahteraan bagi warga.

Selama ini kelemahan dalam mengelola kelautan merupakan titik lemah dan rawan menimbulkan kerugian pada masyarakat di sepanjang pantai dan terjadi pencaplokan pulau-pulau perbatasan, penyelundupan, dan penjarahan sumber daya laut oleh kapal-kapal asing.

”Padahal Kepri sebagai wilayah penyangga politik perbatasan harus dibangun dengan fokus pada manajemen maritim dan dengan regulasi yang meleluasakan masyarakat di perbatasan untuk hidup sejahtera,” katanya.

Zamzami menyarankan pemerintah agar mengajak Malaysia membangkitkan kembali komitmen yang dibuat pada April 1972 untuk bersama-sama melindungi kehidupan dan masyarakat di pantai-pantai sepanjang Selat Malaka, terutama di Kepri.

”Komitmen April 1972 dapat merawat posisi geostrategis Kepri yang berperan menyangga stabilitas politik negara-negara sekitar,” katanya.

Bagi Indonesia, bila dibangkitkan, komitmen dengan Malaysia yang dibuat pada April 1972 akan menjadikan warga di pantai-pantai kedua negara tidak lagi memandang asing satu sama lain hanya karena berbeda wilayah dan kebangsaan.

”Kelak, misalnya, tidak lagi terjadi kesalahpahaman tentang batas-batas daerah tangkapan nelayan dari kedua negara,” katanya.

Kebangkitan Komitmen April 1972 dapat diupayakan dengan memanfaatkan posisi Indonesia yang kini Ketua ASEAN.

Komitmen April 1972 merupakan salah satu dari kesepakatan Indonesia dan Malaysia dalam menjaga agar kawasan ini tetap aman sebagai jalur lalu lintas perdagangan banyak negara di Asia, terutama Jepang, dan akhir-akhir ini Korea serta China.

Tonggak sejarah politik perbatasan di kawasan ini telah dimulai ketika pada 17 Maret 1970 ditandatangani perjanjian mengenai batas laut Selat Malaka antara dua negara pantai, Malaysia dan Indonesia, mulai dari Selatan One Fathom Bank yang berada di Kelang hingga Selat Durian Singapura.

Posisi geostrategis Indonesia dalam hal ini Kepri di kawasan Selat Malaka sebagai jantung lalu lintas peradaban dunia di Asia dianggap penting oleh Amerika Serikat sehingga harus mengontrol keseimbangan kekuasaan di kawasan Asia guna memastikan bahwa wilayah ini memiliki hak otonomi yang kuat, inklusif, dan tidak bergolak.

Wilayah Kepri yang bersentuhan langsung dengan perbatasan berbagai negara merupakan entitas politik paling majemuk dan paling inklusif serta menjadi kawasan terkaya akan ragam budaya dan dinamika politik. Oleh karena itu, dicermati Singapura, Malaysia, bahkan AS dan Australia setiap waktu.

Amerika Serikat menganggap Indonesia sebagai pemain kunci, selain Jepang dan China, bagi terwujudnya sistem keamanan yang stabil di Asia Tenggara.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar