Jumat, 22 April 2011

Nuklir Indonesia Tergantung Presiden Yudhoyono


Kamis, 21 April 2011 14:35 WIB

Surabaya (ANTARA News) - Presiden "Women in Nuclear" (WiN) Indonesia Prof Dr Tri Murni Soedyartomo menyatakan, aplikasi teknologi nuklir di Indonesia bergantung kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Kalau kita mengembangkan nuklir maka kita akan maju dan sejahtera, karena bisa untuk aplikasi bidang pangan, kesehatan, dan energi," katanya dalam tayang-bincang Hari Kartini di Universitas Narotama, Surabaya, Kamis.

Menurut peneliti BATAN itu, para ahli nuklir sudah menyampaikan masalah nuklir untuk kesejahteraan kepada MPR, DPR, dan DPD yang semuanya setuju, namun masalah itu belum tersampaikan kepada Presiden Yudhoyono sehingga sikap Presiden belum diketahui.

"Padahal, kalau Presiden bilang go (jalan) maka aplikasi nuklir berupa PLTN akan ada di Indonesia, karena sumber daya manusia sudah cukup banyak dan investor yang siap dari luar negeri juga sudah ada," paparnya.

Berbicara dalam tayang-bincang bertajuk "Wanita Indonesia Modern, Tangguh, dan Peduli Lingkungan" itu, ia menjelaskan PLTN akan mendorong industri yang maju, karena industri itu membutuhkan listrik dan hal itu dapat dipenuhi melalui PLTN.

"Apalagi, Indonesia sudah pernah menandatangani komitmen pada tahun 1970 untuk memihak kepada nuklir untuk kesejahteraan, bukan bom. Ibarat pisau, nuklir itu bisa melukai, tapi juga bisa untuk memasak," ujarnya.

Di bidang pertanian, nuklir bermanfaat untuk pemuliaan tanaman sorgum dan gandum dengan melalui metode induksi mutasi dengan sinar Gamma, bahkan peneliti BATAN sudah menemukan 15 varietas padi unggulan.

"Varietas padi ungggulan itu bisa menghasilkan sembilan ton per hektare dengan usia tanam juga hanya 100 hari, padahal satu hektare itu biasanya menghasilkan hanya 2,5 ton padi," tambahnya..

Di bidang kedokteran, teknik nuklir memberikan kontribusi yang tidak kalah besar, yaitu terapi "three dimensional conformal radiotherapy" (3D-CRT) yang dapat mengembangkan metode pembedahan dengan menggunakan radiasi pengion sebagai pisau bedahnya.

"Dengan teknik itu, kasus-kasus tumor ganas yang sulit dijangkau dengan pisau bedah konvensional menjadi dapat diatasi, bahkan tanpa merusak jaringan lainnya," tuturnya.

Di bidang energi, nuklir dapat berperan sebagai penghasil energi PLTN yang menghasilkan energi lebih besar dibandingkan dengan pembangkit lainnya, dengan limbah dan biaya operasi yang lebih rendah.

"Hambatannya, pengembangan teknologi nuklir di Indonesia sangat lamban, karena adanya kelompok antinuklir, sehingga rencana PLTN di Jepara pun batal, kemudian kita bergeser ke Bangka Belitung," katanya.

Di Bangka Belitung, rencana PLTN mendapatkan respons positif dari pejabat hingga rakyat, namun kelompok antinuklir memanfaatkan tragedi di Fukushima, sehingga rencana PLTN itu pun mengalami kendala lagi.

"Masyarakat sebenarnya tak perlu khawatir dengan radiasi, karena semuanya bergantung pada sikap kita. Komputer dan handphone itu juga mengandung radiasi, kalau kita tidak terlalu lama menggunakannya, maka akan aman-aman saja," tandasnya.(*)

E011/C004


kalau nunggu pak beye kelamaan bu, WNI kita disandera perompak somalia mpe sekarang g jelas tindakannya,,,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar