Selasa, 19 April 2011

Pesta Penganten Jadi Maut


Hari-hari ini seharusnya menjadi saat-saat yang menggembirakan bagi warga Dukuh Sedawun, Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang (Jawa Timur). Dua upacara temu pengantin sedang dan akan berlangsung di desa berudara dingin di lereng utara Gunung Kelud (Jawa Timur ) itu, sekitar 32 km dari Kota Malang.

Malah panggung dan singgasana pengantin sudah dipasang menutup jalan desa. Kursi, pengeras suara, diesel pemasok daya listrik, sudah terpasang untuk resepsi pengantin Minggu malam.

Tak sampai 100 meter dari panggung itu, acara persiapan pengantin lainnya di rumah Sutomo (50-an), yang akan berlangsung dua minggu yang akan datang sudah mulai tampak. Di rumah Sutomo sebagai rumah pengantin putri, sudah ada tumpukan kayu bakar untuk memasak bagi tamu hajatan .

Beberapa batang lampu neon masing-masing bertenaga 20 Watt, sudah dinyalakan terang benderang di halaman rumah pedesaan yang biasanya gelap gulita tanpa lampu penerangan jalan. Tapi takdir berkehendak lain.

Kakak kandung Sutomo, bernama Suwoko, serta kakak kandung lainnya Misdiono, tewas dalam bencana tanah longsor di tepian hutan, 3 km dari dusun itu, hari Minggu (17/4/2011). Dua korban ini bagian dari seluruhnya 10 korban jiwa, serta sembilan korban luka-luka warga desa itu. Maka terhentilah acara hajatan pengantin yang seharusnya penuh canda dan tawa.

Para korban tewas saat tertimpa longsoran. Satu diantaranya tewas di tengah perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Syaiful Anwar, Malang, karena tertimpa tanah longsor. Mereka semua seluruhnya sekitar 25-30 orang bersama-sama sedang mencari kayu-kayu di hutan desa, untuk bakal bahan bakar dapur pada acara hajatan nanti.

Tidak diawali gejala apapun, peristiwa itu terjadi tiba-tiba, kata Tekad (70-an), orang tua Sutomo, dan juga dua orang korban tewas kakak kandung Sutomo. Tekad yang kehilangan dua anaknya, mengaku tidak ada pertanda apa-apa. Ny Suwoko (40-an) yang kehilangan suami, mengaku saat berangkat suaminya masih segar. Begitu pulang sudah terbungkus kain karung goni.

Sungguh tak pernah mengira akan ditinggal suami dengan cara seperti ini, kisahnya, seraya memeluk anak perempuannya. Keluarga ini tinggal bersebelahan dengan rumah pengantin. Rumah Suwoko berupa rumah papan, beralas tanah ditutup tikar, yang jika duduk diatas tikar orang bisa erasakan gumpalan batu-batu di bawah tikar.

Sutomo dan istrinya, orang tua pengantin, belum bisa diajak bicara karena shock, kehilangan dua kakak dan tak jelas lagi akan bagaimana hajatan pernikahan ini akan dilaksanakan. "Apalagi pengantinnya, hanya mengurung diri dalam kamar," kata orang tua Ny Sutomo, atau nenek pengantin yang mewakili keluarga Sutomo menjawab pertanyaan tamu.

***

MESKI tak bisa dikategorikan sebagai desa miskin, warga Sedawun dan umumnya warga Desa Pandasasri, hidup sederhana. Kehidupan ekonomi bersumber dari penghasilan memerah susu 15 liter sehari per ekor, atau penghasilan bersih Rp 20.000 dipotong biaya pakan. Mereka juga bertanam jagung dan ketela. Camat Ngantang Bagus Sulistyawan menolak dugaan bahwa warga Pandansari warga perambah.

Lokasi pengambilan kayu berada di tengah Sungai Konto, yang bersumber dari Gunung Kelud, dan di jalur lahar dingin Sungai Penambaan. Seperti lazimnya sungai di lereng gunung, sungai dipenuhi material batu besar dan kecil, kerikil hingga pasir, serta tumpukan kayu-kayu dari pohon hutan secara alamiah tumbang karena longsor dari atas.

"Tebing yang longsor dan menimpa para warga Desa pandansari itu berupa tebing vertikal ketinggian 300 meter," kata Kepala Dusun Sedawun, Suyitno, kegiatan beramai-ramai mengambil kayu-kayu pohon tumbang di hutan untuk hajatan ini kegiatan gotong royong, yang disebut yasan.

"Gas elpiji tak akan bisa memenuhi kebutuhan warga untuk memasak bagi ratusan orang tamu penganten. Tradisi hajatan yang dilakukan dengan bergotong-royong ke hutan demikian sudah menjadi tradisi dan kebiasaan," katanya.

Kayu-kayu dipotong, lalu rencananya diangkut dengan truk pikap kecil ke rumah orang penganten pemilik hajat. Hari itu cuaca cerah, sehingga sama sekali tak ada kekhawatiran tentang kondisi alam. Tapi tentu kenyataan bicara lain.

Tidak hanya tanah, batu-batu besar, pohon-pohon terjatuh dari ketinggian sekitar 300 meter dari atas tebing, langsung menimpa orang-orang ini di bawah.

Pada lokasi kejadian, kata Camat Ngantang Bagus Sulistyawan, belakangan dilaporkan hujan turun dua hari sebelumnya. Para korban meninggal seketika di tempat kejadian dalam keadaan yang mengenaskan. Anggota badan berlepasan. Kebanyakan karena luka-luka parah di kepala, tertimpa batu dan pohon dari atas.

Ngantang bersama sejumlah kecamatan di lereng gunung wilayah Kabupaten Malang tergolong lokasi rawan bencana juga, di samping Kecamatan Pujon, Kasembon, Dampit, Sumbermanjing Wetan, Pagak, dan kawasan bergunung dan berkelerengan lainnya. Bupati Malang Rendra Kresna datang dan berkeliling ke rumah-rumah duka untuk menyampaikan bela sungkawa.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur Siswanto datang ke lokasi kejadian memberikan santunan kepada korban meninggal dunia, masing-masing Rp 3 juta, dan korban luka masing-masing Rp 1,5 juta. Ia datang mewakili Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf yang tak jadi datang.

Korban bencana alam, dengan kategori bencana alam maupun non alam, mendapat bantuan dari pemerintah sesuai dengan sifat kerugiannya. Seperti biaya pemulihan dari luka-luka, bakal dibebaskan. Pengelolaan ancaman bencana secara lebih menyeluruh masih pada tahap inventarisasi lokasi-lokasi rawan bencana, katanya.

Meski mendapat keringanan dan bantuan, kehilangan sanak saudara di waktu yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan bukanlah sesuatu yang mudah. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar