Rabu, 06 April 2011

BEM KM UGM Dibekukan !


Aksi penolakan pemberlakuan Kartu Identitas Kendaraan (KIK) yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) UGM berlanjut hingga Rektorat. Aksi yang semula berlangsung tertib sempat ricuh karena massa memaksa masuk balai senat untuk bertemu dengan Rektor UGM.

Dengan sedikit emosional karena merasa tak mendapatkan tanggapan dari ampus atas tuntutannya selama ini, massa secara berarakan menaiki tangga gedung rektorat dan berteriak keras meminta rektor UGM menemui mereka. Beruntung, pihak kampus mau memberikan jawaban meski harus diwarnai dengan diskusi alot yang meminta mahasiswa turun dari gedung atas.

Rektor UGM, Prof. Sudjarwadi dalam pertemuan tersebut mengungkapkan, bahwa tujuan UGM memberlakukan KIK pada dasarnya adalah untuk kepentingan kebaikan kampus kedepan untuk mewujudkan lingkungan yang educopolis. Sementara mahasiswa sendiri dianggap belum mengetahui sepenuhnya prosedur yang ditetapkan termasuk penyaluran dana dari pemberlakuan desinsentif KIK.

"Kami sudah sering mengeluarkan edaran terbuka bahkan melakukan diskusi dengan mahasiswa bahwa secara tegas pemberlakuan KIK itu bukan semata untuk mencari uang. Ini untuk mewujudkan suasana kampus yang lebih baik. Dan telah ditegaskan bahwa dana desinsentif sepenuhnya akan dikembalikan untuk kepentingan mahasiswa," ujarnya di gedung rektorat setempat, Rabu (30/3).

Menurutnya, mahasiswa terlalu memberikan tanggapan yang emosional dengan menggunakan cara yang jauh dari prinsip pendidikan. Sehingga beberapa diskusi yang dilakukan saat ini seolah tidak mampu memberikan pengertian. Rektor menuding jika mahasiswa cenderung salah paham karena semua informasi tidak terserap.

"Sudah kami jelaskan berkali-kali jika mahasiswa boleh memonitor keuangan dari KIK. Mahasiswa juga tidak ditarik biaya untuk bisa mendapatkan KIK. Bahkan telah kami katakan jika mahasiswa bisa mengajukan permohonan dana untuk penelitian atau kepentingan lain yang bermanfaat," katanya.

Perwakilan aksi massa, Pangky menyatakan, kehadiran mahasiswa untuk menduduki rektorat kali ini merupakan bentuk perjuangan yang tidak main-main. Pasalnya selama ini mereka merasa jika tuntutannya selama ini tidak pernah ditanggapi dengan serius oleh pihak kampus.

"Kami ingin sikap tegas dari rektorat untuk bisa membatalkan pemberlakuan KIK. Ini tidak sesuai dengan semangat kerakyatan yang diusung kampus UGM. Kami telah melakukan kajian hingga dua bulan lebih dan terbukti bahwa KIK tidak efektif diberlakukan. Sampai kapanpun kami akan memperjuangkan ini," tuturnya.

Sampai berita ini diturunkan, massa masih menduduki gedung rektorat dan melakukan diskusi dengan pihak kampus. Mereka menuntut segera dilakukan MoU antara rektor dan mahasiswa untuk membatalkan KIK. Namun tuntutan tersebut belum ditanggapi oleh pihak kampus.










Aksi penolakan pemberlakuan Kartu Identitas Kendaraan (KIK) yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) UGM berlanjut hingga Rektorat. Aksi yang semula berlangsung tertib sempat ricuh karena massa memaksa masuk balai senat untuk bertemu dengan Rektor UGM.

Dengan sedikit emosional karena merasa tak mendapatkan tanggapan dari ampus atas tuntutannya selama ini, massa secara berarakan menaiki tangga gedung rektorat dan berteriak keras meminta rektor UGM menemui mereka. Beruntung, pihak kampus mau memberikan jawaban meski harus diwarnai dengan diskusi alot yang meminta mahasiswa turun dari gedung atas.

Rektor UGM, Prof. Sudjarwadi dalam pertemuan tersebut mengungkapkan, bahwa tujuan UGM memberlakukan KIK pada dasarnya adalah untuk kepentingan kebaikan kampus kedepan untuk mewujudkan lingkungan yang educopolis. Sementara mahasiswa sendiri dianggap belum mengetahui sepenuhnya prosedur yang ditetapkan termasuk penyaluran dana dari pemberlakuan desinsentif KIK.

"Kami sudah sering mengeluarkan edaran terbuka bahkan melakukan diskusi dengan mahasiswa bahwa secara tegas pemberlakuan KIK itu bukan semata untuk mencari uang. Ini untuk mewujudkan suasana kampus yang lebih baik. Dan telah ditegaskan bahwa dana desinsentif sepenuhnya akan dikembalikan untuk kepentingan mahasiswa," ujarnya di gedung rektorat setempat, Rabu (30/3).

Menurutnya, mahasiswa terlalu memberikan tanggapan yang emosional dengan menggunakan cara yang jauh dari prinsip pendidikan. Sehingga beberapa diskusi yang dilakukan saat ini seolah tidak mampu memberikan pengertian. Rektor menuding jika mahasiswa cenderung salah paham karena semua informasi tidak terserap.

"Sudah kami jelaskan berkali-kali jika mahasiswa boleh memonitor keuangan dari KIK. Mahasiswa juga tidak ditarik biaya untuk bisa mendapatkan KIK. Bahkan telah kami katakan jika mahasiswa bisa mengajukan permohonan dana untuk penelitian atau kepentingan lain yang bermanfaat," katanya.

Perwakilan aksi massa, Pangky menyatakan, kehadiran mahasiswa untuk menduduki rektorat kali ini merupakan bentuk perjuangan yang tidak main-main. Pasalnya selama ini mereka merasa jika tuntutannya selama ini tidak pernah ditanggapi dengan serius oleh pihak kampus.

"Kami ingin sikap tegas dari rektorat untuk bisa membatalkan pemberlakuan KIK. Ini tidak sesuai dengan semangat kerakyatan yang diusung kampus UGM. Kami telah melakukan kajian hingga dua bulan lebih dan terbukti bahwa KIK tidak efektif diberlakukan. Sampai kapanpun kami akan memperjuangkan ini," tuturnya.

Sampai berita ini diturunkan, massa masih menduduki gedung rektorat dan melakukan diskusi dengan pihak kampus. Mereka menuntut segera dilakukan MoU antara rektor dan mahasiswa untuk membatalkan KIK. Namun tuntutan tersebut belum ditanggapi oleh pihak kampus.



Inti permasalahannya sih gini gan. UGM kan mengeluarkan kebijakan pemberlakuan Kartu Identitas Kendaraan (KIK), nah yg ngga punya KIK alias orang luar UGM kalo mau masuk UGM harus bayar Rp. 1000,-. 

Nah, BEM KM UGM menolak adanya KIK ini karna membebani mahasiswa dan membuat UGM terlihat eksklusif, padahal kan UGM itu kampus kerakyatan, selain itu UGM juga kalo sore jadi tempat kumpulnya masyarakat Jogja yg pengen jogging, latihan bola, basket, silat, parkour dll.

Menurut agan gimana ?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar