Rabu, 06 April 2011

[MIRIS] Gara-gara Sering Diledek Anak Kecil, Chandra Sasmito Ngamuk...


Dijerat, Korban Masih Hidup | Pelaku Dikenal Kurang Gaul
Diejek Tolol, Kubur Sepupu Hidup-Hidup

Senin, 4 April 2011 | 07:36 WIB


KEDIRI | SURYA – Gara-gara sok pintar dan suka meledek, nasib Ananda Fariza (8), berakhir tragis. Ia tewas di tangan Chandra Sasmito (19), saudara sepupunya yang selama ini menjadi korban ledekannya, Sabtu (2/4).

Pelajar kelas I SDN Setonorejo, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri itu tewas setelah pelipisnya dipukul balok kayu serta lehernya dijerat ikat pinggang. Untuk menghilangkan jejak, mayat korban kemudian dikubur di tengah kebun tebu belakang rumahnya.

Usai menghabisi korban, pelaku Candra Sasmito kemudian kabur ke rumah saudaranya di Desa Pelas, tetangga desa dengan Desa Setonorejo. Pemuda itu diringkus polisi sekitar pukul 23.30 WIB.

Dari pengakuan Candra, dia tega membunuh saudaranya sendiri karena tersinggung sering diledek dan dicemooh korban. Meski usianya hampir 20 tahun, Chandra tidak tamat sekolah dasar (SD). Hal itulah yang selalu menjadi bahan olok-olok Ananda terhadapnya, bahwa ia tidak lulus SD karena tolol.

“Saya marah dan tersinggung karena setiap ketemu, dia (Ananda Fariza, Red) selalu mengolok-olok saya bodoh dan pemalas. Saking pegel (jengkel) nya anak itu tak pukul, kemudian tak jerat lehernya,” tutur pemuda berambut gondrong itu.

Chandra ingin menghentikan olok-olok itu dan ia pun menyusun siasat untuk membunuh saudaranya itu. Menurut Candra, untuk mengelabuhinya, pelaku Chandra mengajak korban bermain di kebun tebu. Begitu keduanya berada di tengah kebun tebu tiba-tiba pelipis korban dipukul dengan balok kayu.

Namun pukulan itu tidak mengakibatkan korban tewas, karena korban sempat meronta. Pelaku yang sudah kesetanan itu kemudian menjerat leher korban hingga lemas. Sadisnya lagi, pelaku dikubur saat korbannya belum tewas

“Waktu saya pendam di galengan tebu tubuhnya masih gerak-gerak,” ungkap Candra.

Pembunuhan itu terungkap berkat kecurigaan ibu korban Ny Mukaromah (35) yang sepulang bekerja pukul 15.30 WIB tidak menemukan anak satu-satunya itu di rumahnya. Ia semakin curiga karena makan siang yang disiapkan untuk Ananda masih utuh. Padahal biasanya, setiap pulang sekolah makan siang itu selalu dilahap anaknya.

Selain menunggu Ananda pulang, keluarga itu pun menggalang pencarian. Namun hingga sore, anak semata wayangnya itu tidak kunjung nongol.
Sementara itu, sang kakek, Mbah Tomo (65), juga mencari dengan rutenya sendiri. Ia merasa sempat melihat kedua cucunya, Ananda dan Chandra main bersama. Namun saat itu kedua cucunya itu tidak tampak.

Mbah Tomo kemudian berinisiatif mencari kedua cucunya ke tengah kebun tebu di belakang rumahnya. Kecurigaan kakek itu tertuju pada gundukan tanah yang masih basah, kemudian dibongkarnya.

Namun kakek itu mengaku, tubuhnya mendadak lemas begitu mengetahui di dalam gundukan tanah ternyata dikubur jasad cucunya, Ananda. “Waktu saya bongkar yang kelihatan pertama kali kepalanya dalam posisi tengkurap. Kemudian saya berteriak minta tolong warga,” tuturnya.

Dijelaskan Mbah Tomo, terkait kelakuan cucunya Candra Sasmito yang melakukan pembunuhan, diakuinya punya perilaku sedikit aneh. “Candra memang anaknya pemalu dan jarang bergaul. Kalau bertemu orang, dia malah pilih bersembunyi,” ujarnya.

Kematian Ananda Fariza membuat kedua orangtuanya, Sutrisno (37) dan Ny Mukaromah (35), shock berat. Maklum Ananda merupakan putra tunggalnya.

Sementara Kapolsek Kras AKP Edy Subandriyo masih menunggu hasil visum korban untuk mengetahui penyebab kematiannya. Selain itu, pihaknya akan memeriksakan kejiwaan tersangka Candra Sasmito ke psikiater RS Bhayangkara Kediri. “Pelaku dan barang buktinya sudah kami amankan,” jelasnya.***



Candra Sasmito pantasnya dihukum gantung sampe ko'it 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar