Senin, 04 April 2011

Awas! Penculik Mengaku Polisi


Cara-cara penculik memperdayakan korbannya semakin berani. Mengaku sebagai anggota Polri. Seorang mahasiswa Universitas Bunda Mulia diculik enam pria yang mengaku polisi bagian narkoba. Meminta tebusan Rp20 juta, komplotan residivis kasus yang sama itu digulung usai mengambil tebusan Rp1,5 juta.

Tersangka Lr, Dk, Mn, Bd, Mr, dan Ol, disergap polisi dalam mobil Nissan X-trail B 7124 KI di Bendungan Hillir, Jakpus, Sabtu (26/3) menjelang tengah malam.

“Mereka baru saja mengambil uang tebusan Rp1,5 juta dari ATM BCA di kawasan itu,” ujar Kapolsek Penjaringan, AKBP Achmad Ibrahim, Minggu (27/3) siang. William Tanujaya, 21, korban penculikan, juga berada dalam mobil tersebut. Pemuda ini langsung diamankan polisi.

Penculikan terhadap dua mahasiswa itu terjadi sekitar Pk. 18:00 di rumah mewah Pieter di Jl. Muara Karang, Penjaringan, Jakut. Dua pria yang mengaku polisi bagian narkoba datang. Mereka menanyakan pemilik motor yang parkir di depan rumah.

Iyem, pembantu keluarga Pieter, menyebut kendaraan roda dua milik William, teman anak majikannya. Atas suruhan dua pria itu, Iyem naik ke lantai dua rumah majikan untuk memanggil William. Wanita itu kaget saat dua tamunya itu ikut menerobos masuk rumah.

Tak peduli protes Merry, pemilik rumah, William langsung digiring turun lalu didorong masuk ke X-trail. Dua pria itu minta agar pengusaha mie Aceh ini tak banyak ribut. Samvil menunjukkan alat hisap shabu, mereka mengaku polisi bagian narkoba.

Keluarga Pieter langsung mengadukan hal itu ke Polda Metro Jaya. Setelah diketahui terjadi penculikan, laporan penculikan itu masuk ke Polsek Penjaringan sekitar Pk. 21:00.

Piter dan ibunya, Iyem serta Tan Swie Poe, ayah William, dimintai keterangan. Diketahui, penculik telah menelepon Swie Pos meminta tebusan Rp20 juta agar anak kedua dari tiga bersaudara itu bisa dibebaskan. Penculik juga mengancam akan menghabisi pemuda itu juga permintaan tak dipenuhi.

Mengaku tak punya uang sebanyak itu, Swie Poe minta agar uang tebusan diturunkan. Setelah negosiasi, disepakati uang terbusan Rp4 juta dikirim dengan cara transfer malam itu juga. Penculik memberi nomor rekening seorang wanita nasabah BCA. Ingin anaknya kembali dengan selamat, Swie Poe mentransfer uang Rp1,5 juta ke nomor rekening yang diberi penculik.

Sekitar Pk. 23:30, jejak kawanan itu terlacak. Dipimpin Kanit Reskrim Kompol Deddy Murti Hariadi, petugas bergerak. Mobil X-trail yang disebut sejumlah saksi terlihat di kawasan Bendungan Hilir. Setelah uang tebusan diambil dari ATM, polisi merangsek mengepung kawanan itu.

Kompol Deddy mengatakan masih memeriksa enam penculik. Mengenai kemungkinan kebenaran pengakuan kawanan itu sebagai aparat, kanit belum bisa memkastikan. “Hasil penyelidikan sementara dua dari enam tersangka adalah residivis dalam kasus yang sama di Tamansari, Jakarta Barat. Mereka baru keluar LP Salemba tiga bulan lalu,” katanya seperti dilansir poskota.

Sedangkan kendaraan yang dipakai komplotan itu untuk beraksi, menurutnya, juga masih dalam penyelidikan. “Kami masih memcari tahu mobil itu pinjaman, milik mereka atau kendaraan hasil kejahatan.”

Kanit berpesan agar masyarakat waspada saat menghadapi penangkapan atau pemeriksaan aparat. “Masyarakat mesti tenang dan yang penting meminta identitas orang yang mengaku polisi,” katanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar