Sabtu, 16 April 2011

[Hot News]Fenomena Ulat Bulu Diakibatkan Oleh Perubahan Ekosistem Global

Peneliti Madya Lab Entomologi Balai Penelitian Kacang-Kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) Malang, Bedjo, menunjukkan salah satu contoh ulat bulu yang sudah mati oleh serangan cendawan Beauveria bassiana, organisme entomo-patogen, atau penyakit yang menyerang hama pengganggu, Selasa (13/4/2011) di Malang. Ulat bulu yang diidentifikasi di Kabupaten Probolinggo menyerang pohon mangga, terbukti secara alamiah mati oleh serangan cendawan yang menyerang tubuh bagian luar, serta virus yang termakan oleh ulat.


JAKARTA, KOMPAS.com - Peningkatan populasi ulat bulu yang sangat tinggi belakangan ini diduga turut disebabkan perubahan ekosistem secara global. Salah satu indikasinya, peningkatan tersebut merata di berbagai daerah di Indonesia.

Hal ini dikemukakan Prof. Dr. Deciyanto Soetopo, Peneliti Utama Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian (Balitbang Kementan) di lokasi habitat ular bulu, Tanjung Duren, Jakarta Barat, Rabu (13/4/2011).

"Secara global ada gejala yang sama. Dari lingkungan Biotik maupun abiotik, faktor penghambat atau penekan perkembangan ulat bulu semakin berkurang. Faktor biotik, misalnya, predator ulat bulu semakin langka. Sementara, faktor abiotiknya, curah hujan yang tinggi sepanjang tahun lalu justru mengakibatkan predatornya berkurang," papar Deciyanto.

Ia mencontohkan, di lokasi habitat ulat bulu di Tanjung Duren, Jakarta Barat, hampir tidak ditemukan spesies pemangsa ulat bulu, seperti burung, sejenis serangga seperti capung, dan semut. Parasitoid, atau micro organisme parasit yang hidup di telur atau tubuh ulat bulu pun belum terlihat.

Tanda-tanda tersebut menunjukkan adanya gangguan ekosistem, yakni hilangnya keseimbangan alami dalam lingkungan hidup.

Perubahan iklim juga dipandang sebagai salah satu pemicu pertumbuhan drastis ulat bulu. Curah hujan yang terlampau tinggi, misalnya, tidak terlalu berpengaruh terhadap ulat bulu, tapi hal itu justru menjadi faktor penghambat perkembangan spesies pemangsanya.

Dengan adanya indikasi yang sama di berbagai daerah yang dilanda peningkatan populasi ulat bulu, Deciyanto menyimpulkan telah terjadi perubahan ekosistem secara global. "Gejala-gejala ini kan terlihat di mana-mana, termasuk di sini. Faktor penghambat populasi ulat bulu sudah semakin langka. Kita bisa berasumsi ada perubahan ekosistem secara global, baik lingkungan biotik (bernyawa) maupun abiotik (tak bernyawa)," jelas Deciyanto.

Menurutnya, cara terbaik untuk mengatasi peningkatan populasi ulat bulu adalah melalui pengendalian alami, yakni tersedianya jumlah pemangsa dalam jumlah yang seimbang. "Tapi kalau meningkat drastis seperti saat ini, ya kita pakai cara darurat yaitu penyemprotan insektisida, seperti pestisida," tukasnya.

Meski demikian, Deciyanto mengingatkan, penggunaan insektisida pun harus diperhitungkan kadarnya. Jika tidak, predator dan parasitoid ulat bulu bisa ikut musnah. Hal ini berbahaya, karena kecepatan pertumbuhan ulat bulu jauh lebih tinggi dari spesies predatornya.




Opini TS
Dalam kasus fenomena ulat bulu ini dapat kita jadikan sebagai peringatan bagi kita, untuk slalu menjaga kelestarian ekosistem (alam), menjaga lingkungan, tidak melakukan perusakan.
Seperti halnya dalam kasus ini, hilangnya predator alami dari ulat bulu seperti burung dll pasti ada penyebabnya, yaitu lingkungan yang tidak bersahabat bagi mereka, ntah ulah orang iseng ataupun dengan sengaja merusak.
Makanya kita harus tetap menjaga kelestarian alam ini, supaya ekosistemnya tetep terjaga dengan baik, dan kita tidak memutuskan rantai kehidupan makhuk hidup (hewan) yang lain.
Hanya itu yangg dapat kita lakukan, kalau dengan masalah iklim, itu bukan kehendak kita, karena itu sudah ada yangg mengatur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar