Jumat, 15 April 2011

Melihat Taman Nasional Lore Lindu



Lore Lindu merupakan nama sebuah kawasan Taman Nasional di Sulawesi Tengah. Kawasan ini dideklarasikan sebagai Taman Nasional (TN) pada tahun 1993, dan terletak antara 119°90' - 120°16' di sebelah timur dan 1°8' - 1°3' di sebelah selatan. Kalau dibandingkan dengan taman nasional lain di Indonesia, ukurannya sedang saja; Taman Nasional ini secara resmi meliputi kawasan 217.991.18 ha (sekitar 1.2% wilayah Sulawesi yang luasnya 189.000 km² atau 2.4% dari sisa hutan Sulawesi yakni 90.000 km²). Taman Nasional ini sebagian besar terdiri atas hutan pegunungan dan sub-pegunungan (±90%) dan sebagian kecil hutan dataran rendah (±10%). Titik terendah di dalam Taman Nasional ini terletak dekat ujung barat laut; ketinggiannya sekitar 200 m di atas permukaan laut. Titik tertinggi adalah gunung Nokilalaki (2335 m asl) dan gunung Rorekatimbu (2610 m asl). Puncak gunung yang disebut terakhir ini letaknya tepat di luar perbatasan Taman Nasional.
karena keunikannya,pada tahun 1977, Lore Lindu diresmikan sebagai Suaka Biosfer di dalam Program Man and the Biosphere (MAB) UNESCO. Penunjukan ini dilakukan sebelum adanya Program Taman Nasional di Indonesia.

Sejak rencana pendiriannya, TN Lore Lindu dipandang memiliki dua fungsi: yakni konservasi keanekaragaman hayati dengan pengelolaan sumber daya alam secara tepat guna. Bagaimanapendekatan ini dapat dilanjutkan dan dikembangkan di masa depan, sangat penting artinya bagi kebijakan perencanaan saat ini, dan secara drastis akan mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan jangka panjang Taman Nasional ini.

Secara biogeografis kawasan ini merupakan daerah peralihan antara Zona Asia dan Zona Australia atau kita kenal dengan Garis Wallace (Wallace Line). Di Pulau Sulawesi, Wallace Line membentang dari Taman Nasional Nani Wartabone di Bolaangmongondou-Gorontalo (Sulut) hingga ke Donggala-Poso melintasi hutan TNLL dan terus sampai ke hutan-hutan tropis di Kendari, Sultra. TNLL seluas 229.000 hektare itu merupakan taman hutan rimba yang tergolong langka di abad ini. Karena kelangkaannya, kawasan ini telah diklaim menjadi milik dunia. Para peneliti asing yang pernah melakukan studi di hutan TNLL menjulukinya sebagai "paru-paru dunia" yang sangat berpengaruh bagi kehidupan manusia. TNLL juga dianggap "laboratorium alam" dunia bagi pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, budi daya, rekreasi dan pariwisata.

Sebagai kawasan hutan di zona transisi, TNLL memiliki potensi flora, fauna, dan ekosistem yang sangat spesifik pula. Di kawasan ini terdapat 266 jenis flora yang hidup pada ekosistem danau, padang rumput, dataran rendah pegunungan dan sub alpin. Beberapa jenis tumbuhan kayu langka terkenal adalah kayu cempaka (manglietia sp), kayu leda (eucaliptus deglupta), jenis rotan (calamus sp), jenis-jenis damar (agathis sp) dan beringin merah (litsea sp). Sedangkan fauna, tercatat 200 jenis, dan 37 jenis di antaranya termasuk fauna yang dilindungi dan 163 jenis belum dilindungi. Jenis satwa liar yang penting dan endemik Sulawesi terdapat dalam hutan TNLL, seperti anoa (babalus quarlesi dan babalus deppressicornis), rusa (cervus timorensis), babi rusa (babyrousa baburussa), kus-kus (phalanger celebensis dan phalanger ursianus), monyet hitam (macaca tonkeana), musang coklat (macrogalidia musschenbroeki), singapuar (tarsius spectrum) dan maleo (macrocephalon maleo). Selain potensi flora-fauna, di kawasan TNLL terdapat batan megalith (batu besar pra sejarah) berbagai corak dan tipe di Lembah Bada, Besoa, dan Napu. Kawasan ini dihuni Suku Kulawi dan Lore dengan adat istiadatnya yang masih asli.

OBJEK WISATA DI TAMAN NASIONAL LORE LINDU



1. Pakuli

Lokasi

Pakuli adalah nama desa yang berada di wilayah penyangga Taman Nasional Lore Lindu. Desa ini secara administratif berada di kecamatan Gumbasa , Kabupaten Sigi. Pakuli berjarak 40 km ke arah Selatan dan kota Palu.

Daya Tarik

Pakuli, sebagai sebuah desa yang dekat dengan Taman Nasional Lore Lindu, telah lama memanfaatkan berbagai macam tumbuhan untuk bahan pengobatan tradisional. Hash penelitian menemukan 287 dan 41 5 jenis bahan tumbuhan obat tradisional yang dipergunakan, diperoleh dan kawasan Taman Nasional Lore Lindu. 


Pakuli berada 300 meter diatas permukaan laut dan merupakan kawasan dengan ketinggian terendah di TNLL. Burung yang biasa dijumpai di lokasi ini diantaranya : Burung Maleo, Burung Gosong Filipina, Cabak Sulawesi, Kapasan Sulawesi, Kepodang ungu tungging putih.

Aksesbilitas

Untuk mancapai Pakuli, dapat ditempuh dengan mobil atau angkutan umum selama I jam. Kondisi jalan menuju lokasi bagus. Angkutan umum dan Palu, dapat ditemukan di terminal angkutan Pasar Masomba.

Fasilitas

Pondok pengobatan tradisional, kebun obat, jembatan gantung, penangkaran Maleo dan shelter.



1. Pakuli2. Saluki

Lokasi

Saluki terletak di Desa Tuva, berjarak 50 km ke arah Selatan kota Palu, berada dalam wilayah kerja Bidang Pengelolaan Wilayah I Saluki TNLL, termasuk dalam kecamatan Gumbasa.

Daya Tarik

Kawasan nesting ground burung Maleo terbesar ditemukan di lokasi ini Jenis burung lain yang dapat dijumpai di antaranya : Merpati hitam, Sulawesi, Raja Udang Merah Sulawesi, Cekakak Hutan, Tungging Hijau, Dederuk Merah, Pergam Putih, Rangkong Sulawesi.

Terdapat pula sebuah bumi perkemahan dengan pemandangan indah di sekitarnya dengan kapasitas maksimal 500 pengunjung


Aksesibilitas

Perjalanan ke Saluki dapat ditempuh selama kurang lebih I,5 jam dengan menggunakan mobil atau angkutan umum dan Palu dengan kondisi jalan yang cukup baik.

Fasilitas

Penangkaran burung Maleo, shelter, menara pengamatan burung, bumi perkemahan yang dilengkapi MCK.



3. Danau Lindu
Lokasi

Danau Lindu terletak di tengah-tengah kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Danau ini merupakan bagian dan enclave Lindu, berjarak sekitar 63 km ke arah selatan dan Palu.

Daya Tarik

Danau Lindu terbentuk dan proses tektonik. Danau ini merupakan obyek wisata alam yang menarik dengan panorama alam yang asri, kultur budaya masyarakat dataran Lindu yang pluralistis. Danau dengan luas 3.200 hektar, berada pada ketinggian 1 .000 meter di atas permukaan laut dengan rawa-rawa yang luas sekelilingnya. Satwa yang dapat dijumpai diantaranya : Monyet Hitam Sulawesi, Anoa, Tarsius dan berbagai jenis burung, seperti: Padi Belang, Kowak Malam Merah, Elang, Kelelawar, Elang Ikan Kecil, Elang Laut Perut 
Di tengah danau Lindu terdapat sebuah pulau dengan luas ± 5 hektar. Di pulau ml terdapat situs kuburan Maradindo dan abad ke -18. Untuk mencapai pulau ml diperlukan hanya 20 menit dengan perahu motor dan desa Tornado.

Aksesbilitas

Perjalanan ke Danau Lindu dan Palu dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat sampai di Sidaunta (1 ,5 jam), yang kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki atau dengan menggunakan roda dua (ojeg). Perjalanan Sidaunta ke Dataran Lindu memakan waktu tempuh sekitar 6 jam jalan kaki atau I jam menggunakan kendaraan roda dua.

Fasilitas

Pondok wisata, penginapan, perahu katinting, permandu lokal.



4. Toro 

Lokasi

Toro adalah sebuahnama desa yang berbatasan Iangsung dengan kawasan taman nasional di wilayah kerja Bidang Pengelolaan Wilayah I Saluki TNLL. Secara administratif berada di Kecamatan Kulawi Selatan. Toro berjarak sekitar 115 km ke arah Selatan dan kota Palu.

Daya Tarik

Hutan dataran rendah yang berbatasan dengan areal persawahan dan perkebunan cokiat yang membuat pemandangan alam yang indah. Terdapat pembagian hutan yang dikelola secara adat, dengan pasukan pengamanan hutannya yang disebut Tondo Ngata. Selain itu terdapat rumah adat tradisional yang dikenal dengan nama "Lobo", rumah adat yang digunakan untuk acara musyawarah adat.

Kekhasan lain dan lokasi ini adalah masyarakat yang masih memegang teguh adat istiadatnya dalam menjaga hutan di sekitarnya.

Spesies burung yang dapat dijumpai di lokasi hutan sekitar desa Toro diantaranya : Mandar Dengkur, Perling Sulawesi, Kepodang Sungu Tungging Putih.


Aksesibilitas

Untuk mancapal Toro dapat ditempuh dengan mobil atau angkutan umum selama 4 jam dengan kondisi jalan cukup baik. Angkutan umum dan Palu, dapat ditemukan di terminal angkutan

Fasilitas

Penginapan, jalur treking, rumah makan kecil dan pemandu lokal



5. Danau Tambing Lokasi

Lokasi

Danau Tambing berada dalam wilayah kerja Bidang Pengelolaan Wilayah II Makmur TNLL-Kecamatan Lore Utara. Danau Tambing berjarak sekitar 55 km dan Palu.

Daya Tarik

Danau Tambing berada pada ketinggian I .700 mdpl dengan danau berawa dan dikelilingi Iingkungan hutan yang masih alami. Keadaan Iingkungan yang sangat tenang menjadikan lokasi ini sebagai lokasi sempurna untuk pengamatan burung dan biasa juga digunakan sebagai lokasi berkemah. Danau Tambing memiliki kedalaman air hingga 10 meter dan memilki beberapa jenis

ikan endemik. Keindahan alami danau ml bisa dinikmati dengan menggunakan perahu kecil (katinting) untuk menyebrangi danau.

Spesies burung yang dapat dijumpai : Pecuk Padi Hitam Sulawesi, Sikatan Dahi Biru, Burung Madu, Sungu Kerdil, Kepodang Sungu Biru, Itik Benjut, Titihan Telaga, Malia. 


Aksesbilitas

Lokasi ini dapat ditempuh dengan mobil atau angkutan umum selama kurang Iebih 2 jam dan kota Palu. Kondisi jalan raya menuju lokasi cukup baik.

Fasilitas

Jalan setapak, perahu ketinting dan shelter.



6. Nokilalaki-Anaso-Rorekatimbu 
Lokasi

Ketiga objek wisata ini terletak pada wilayah kerja Taman Nasional Lore Lindu di Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Makmur-Kecamatan Lore Utara.

Daya Tarik 
Nokilalaki

Hutan montana ditemukan di pegunungan Nokilalaki. Lokasinya berada pada ketinggian 2.355 meter di atas permukaan laut. Tipe hutan ml puncaknya berdekatan dan bukitnya terisolasi. Puncaknya rata dengan pohon-pohon, kaya akan jenis lumut dan flora pegunungan yang indah. Kawasan ini juga cocok untuk dijadikan lokasi pengamatan burung dan trekking.

Anaso

Berada pada ketinggian 2.000 mdpl, merupakan lokasi pengamatan burung di sepanjang jalur trek sampai ke puncak. Spesies burung yang dapat dijumpai : Berkik Gunung Sulawesi, Cabak, Heinrich, Kancilan Perut Kuning, Anis Geomalia, Kakatua, Kenari Melayu atau Kenari Sunda.

Rore katimbu

Mendekati puncak yang paling tinggi, sekitar 2.600 mdpl, kanopi pohon menjadi semakin seragam, dan pohon-pohon menjadi gemuk pendek dan berbonggol. Daunnya kecil dan tebal, lumut tumbuh dengan subur dan lebat, menutupi lantai hutan, dan jenis lumut pohon yang hijau. Kabut yang menyelimuti membuat suhu tetap rendah, dan membuat kelembaban sampai 90%. Terdapatjuga tumbuhan kantong semar (Nepenthes sp.), yang mengambil makanan tambahan dengan memerangkap serangga.

Aksesibilitas

Jarak Gunung Nokilalaki dan Palu sekitar ± 55 km yang dapat ditempuh dengan mobil atau angkutan umum selama I ,5 jam.



7. Lembah Napu 
Lokasi

Lembah Napu merupakan suatu Iembah yang meliputi wilayah desa Sedoa, Wuasa, Wanga, Watutau. Lembah dengan udara yang sejuk ml merupakan wilayah penyangga dan Taman Nasional Lore Lindu pada wilayah kerja TNLL Bidang Pengelolaan Wilayah III Poso, dan secara administratif termasuk dalam Kecamatan Lore Utara. Lembah ini berjarak sekitar I 05 km dari Kota Palu.

Daya Tarik

Lembah Napu memiliki lahan basah yang luas, pegunungan yang benhutan pada semua sisinya dan lahan pertanian yang bagus. Di Wuasa, terdapat tempat pengamatan bunung yang baik, memiliki beberapa jalan setapak dan hutannya kaya akan epifit. Dan di tepian hutan yang berbatasan dengan padang rumput mempunyai banyak spesies burung seperti - Mandar muka biru, berbagai jenis elang, Peragam Putih, Kipasan Sulawesi

Di Wanga dan Watutau, beberapa masyarakat masih memegang teguh kebudayaan tradisional dalam kehidupannya, seperti penerapan cara-cara bertani tradisional, acara upacara perkimpoian dan perayaan panen raya. 


Aksesbilitas

Perjalanan menuju Lembah Napu dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat atau angkutan umum selama 3 jam. Jalan naya sampai ke lokasi kondisinya cukup baik.

Kendaraan umum ke Wuasa dapat ditemukan di terminal Petobo - Palu.

Fasilitas

Penginapan dan rumah makan kecil dan jalan trekking masuk ke hutan.



8. Padang Rumput Siliwanga
Lokasi

TNLL- berada dalam wilayah kerja Bidang Pengelolaan Wilayah III Poso TNLL-kecamatan Lore Utara. Siliwanga berjarak 120 km dan Palu.

Daya Tarik

Kawasan ini memiliki pemandangan yang bagus dengan padang rumput yang dibatasi kawasan hutan taman nasional pada bagian ujungnya. Area ekosistem savana ini memiliki beragam jenis satwa liar, diantaranya rusa, beberapa jenis burung dan kera hitam endemik dapat ditemukan di area perbatasan dengan hutan. 
Aksesibilitas

Jalan raya ke lokasi kondisinya bagus. Kendaraan umum ke Siliwanga dapat ditemukan di terminal Petobo.

Fasilitas

Jalan setapak, pemukiman penduduk sebagal tempat bermalam, warung makan dan pemandu lokal. 



9. Situs Megalith 
Lokasi

Lokasinya berada di Iembah Besoa dan Bada, Bidang Pengelolaan Wilayah III Poso TNLL-kecamatan Lore Selatan. 
Daya Tarik

Di dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu dan beberapa tempat di sekitar batas kawasan, terdapat ratusan benda-benda megalith dalam berbagai bentuk, tersebar di Lembah Napu, Besoa dan Lembah Bada. Benda-benda tersebut dianggap merupakan monumenmonumen batu terbaik diantara patung-patung sejenis di Indonesia pada jamannya. Disamping terbuat dan batu padat, pengerjaan yang halus dan sederhana, megalith terlihat anggun dan terbuat dan batu granit.

Berdasar penelitian arkeologi, megalith-megalith tersebut diperkirakan berasal dan tahun 3.000 SM dan yang termuda dibuat pada sekitar tahun I .300 Sesudah Masehi. Patung-patung megalith ini diperkirakan sebagai patung-patung pemujaan oleh manusia di jamannya.

Megalith memiliki beragam ukuran, dan yang paling tinggi sekitar 4 meter, sedangkan kebanyakan memiliki ukuran tinggi sekitar 1 ,5 sampai 2,5 meter.

Berdasarkan bentuknya, megalith diklasifikasikan, sebagai berikut:

Patung/arca batu. Patung-patung ml memiliki bentuk menyerupai manusia, namun hanya bagian kepala pundak, mata dan organ kelamin yang dapat terlihat secara jelas.

Kalamba. Batu megalith yang menyerupai jambangan besar, diperkirakan sebagai tempat penampungan air atau tempat menaruh mayat para bangsawan.

Tutu'na. Batu megalith ini merupakan penutup kalamba yang berupa piringan-piringan besar, dengan tonjolan di bagian tengahnya.

Dakon. Berbentuk batu pipih yang rata, pada permukaannya terdapat lubang-lubang kecil, saluran dan lekukan-lekukan tetapi tidak teratur.

Lain-lain. Batu lesung, batu altar, tiang penyangga rumah dan batu yang berbentuk binatang seperti monyet, kerbau dan bentuk-bentuk lain.

Lokasi-lokasi tempat ditemukannya Megalith, yaitu :

Doda

Tidak jauh dan desa Doda, dapat ditemui megalith berupa patung Tadulako. Merupakan patung laki-laki tegak, yang dinamakan menurut nama pahlawan gagah berani yang selalu memenangkan peperangan dalam legenda Kaili dan Kulawi.

Hanggira

Terletak di komplek "Pokekea", sekitar 2 kilometer dan pusat desa, lokasi ini memiliki 30 megalith, termasuk megalith berupa patung laki-laki tegak dan beberapa kalamba besar.

Tuare

Jalan setapak menuju Pokekea Terdapat satu buah kalamba yang bisa ditemukan di sini.

Lengkeka

Sekitar 2 kilometer dan pusat desa, terdapat komplek megalith Suso, termasuk komplek Seppe

(berjarak I km), dan beberapa megalith lainnya.

Gintu

Di lokasi ml, terdapat sebuah megalith bernama "Taraeroi". Di desa ini juga dapat ditemukan kuburan kristiani pertama di Lembah Bada, sepasang suami dan istri.

Bewa

Situs "Watu Palindo" dapat ditempuh dengan berjalan kaki sejauh I ,8 km.

Aksesibilitas

Situs Megalith Doda berjarak I 57 km dan Palu dan dapat ditempuh dengan mobil selama ± 6 jam. Sedangkan Situs Bada, berjarak 300 km, dan perjalanannya melewati kota Poso dan Tentena jika menggunakan kendaraan roda empat, dan jika berjalan kaki dapat ditempuh melalui Doda.

Fasilitas

Terdapat shelter, jalan setapak menuju lokasi megalith dan penginapan serta rumah makan di sekitarnya dan juga pemandu lokal. (untuk mengunjungi lokasi megalith ini, disarankan untuk menggunakan pemandu lokal)




sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar