Senin, 04 April 2011

[Mau Dosa Bayar]Rogoh Kocek Rp35 Ribu, Hasrat Birahi Terpuaskan


Perempuan.. Ber-make up tebal..
Dengan rokok di tangan...
Menunggu tamunya... Datang....

Terpisah dari ramai
Berteman nyamuk nakal... Dan segumpal harapan
Kapankah datang... Tuan berkantong tebal..

Mungkin Anda ingat lirik maestro balada Iwan Fals di atas. Iya lagu berjudul Doa Pengobral Dosa itu mungkin gambaran aktivitas yang terjadi di Makam Kembang Kuning, Surabaya, Jawa Timur pada malam hari.

Kesan seram, angker, dan ngeri yang terpatri di otak kita, seakan terbantahkan dengan aktivitas yang terjadi di makam tersebut. Penelusuran penulis pun diteruskan.

Malam itu memang sedikit terang dengan cahaya rembulan. Untuk menambah pencahayaan, beberapa warung-warung di lokasi tersebut hanya mengandalkan lampu minyak.

Rasa penasaran pun timbul. Penulis masuk ke dalam Makam Kembang Kuning, dan di tengah-tengah makam terdapat sebuah monumen bertuliskan bahasa Belanda. Monumen yang dibangun dengan pagar melingkar ini terdapat empat jalan yang menuju keempat penjuru angin.

Jalan tersebut juga terbagi beberapa gang kecil. Di dekat gang kecil, duduk seorang wanita yang sedang mengepul asap rokok. Guratan umur pun nampak meski harus disembunyikan dengan balutan make up tebal.

Wanita itu sebut saja bernama Sumi, salah satu wanita yang mengais tetes rejeki di areal makam tersebut. Perempuan yang berumur hampir 43 tahun itu mengaku sedang menunggu seorang tamu yang ingin mengajaknya “berbagi” rezeki.

Tak jelas siapa yang ditunggu hingga jam berdetang menunjuk pukul 01.00 WIB, namun Sumi masih duduk terpaku di tempat tersebut. Kepada penulis, wanita ini mengaku untuk tarif sekali kencang terbilang murah.

Meski berdekatan dengan lokalisasi Dolly, tarif di area ini jauh lebih murah. Bahkan tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk bisa melampiaskan hasrat biahinya.

“Karena usianya yang relatif sudah cukup umur, maka tarif sekali kencan sangat murah. Paling mahal Rp35 ribu,” kata wanita tersebut saat ditemui penulis.

Aktivitas ini seakan menjadi hal yang umum di lingkungan tersebut. RW (29), warga sekitar, mengaku aktivitas tersebut ternyata sudah lama terjadi. Bahkan dia tidak ingat sejak kapan ajang pelepas birahin ini mulai berdiri.

Namun belakangan areal makam semakin ramai. Pria berambut cepak ini menilai ramainya makam dengan Kupu-Kupu Malam ini karena tempat tersebut dekat lokalisasi dan ada wacana penutupan Dolly.

Dia menceritakan, untuk tarif yang paling mahal itu bukan lantaran sang Kupu-Kupu Malam berusia lebih muda, melainkan tempat untuk 'mainnya' yang bisa dibilang paling nyaman di antara makam di Kembang Kuning itu.

Yakni ada tempat yang paling nyaman untuk bercumbu meskipun masih di areal makam. Di makam berukuran 2 x 3 meter yang lengkap dengan tembok setengah badan dan disertai dengan atap yang melindungi dinilai lebih nyaman.

"Iya kalau main di situ tarifnya lebih mahal, karena ada ongkos sewa ke preman penguasa makam tersebut," kata RW sambil menunjuk lokasi yang dimaksud.

Enak cuma sekian detik, Penyakitnya Seumur-umur , Mungkin ada para kaskuser dimari yang minat..? atau jangan-jangan udah pernah jadi pelanggan sana

Puaskan Hasrat Birahi di Pinggir Makam


Apa yang ada di pikiran kita saat mendengar kata batu nisan di makam. Iya kesan seram, takut, dan bayangan hantu pasti menyelimuti otak kecil kita. Apalagi bagi sebagian orang, kalimat batu nisan dinilai angker untuk dibicarakan di malam hari.

Namun di Surabaya, Jawa Timur, tidak demikian. Justru areal pemakaman ini digunakan untuk transaksi seksualitas. Tidak hanya itu, mereka juga menggunakan nisan sebagai tempat eksekusi bagi pria hidung belang yang ingin menyalurkan hasrat birahinya.

Mungkin Anda akan tercengang mengetahui hal tersebut. Namun memang itulah kenyataan yang ada di sana. Tertarik dengan fenomena tersebut, penulis pun mencoba untuk menelusurinya.

Posisi Makam Kembang Kuning memang tidak asing bagi warga Jalan Diponegoro, Surabaya. Jejak penulis pun menyusuri jalan setapak sejauh 500 meter dari jalan besar.

Sebelum mencapai jalan tersebut, penulis “dihadang” gapura yang berbunyi “Anda memasuki areal makam kembang kuning”. Menurut warga setempat, nama kembang kuning diambil dari banyaknya tumbuh-tumbuhan di tempat itu yang berbunga berwarna kuning.

Bahkan ada yang menyebut nama daerah kembang kuning cemoro sewu karena banyaknya pohon cemara di tempat tersebut. Konon areal pemakaman ini sudah ada sejak tahun 1918. Hal itu tertulis di salah satu makam warga berkebangsaan Belanda.

Entah kebetulan atau tidak, lokasi makam kembang kuning ini memang berdekatan dengan lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara, kawasan Dolly. Tidak ada yang istimewa saat siang hari.

Hanya jajaran makam bernisan apik terlihat indah. Sejumlah makam bahkan terlihat membangun sebuah bangunan menyerupai rumah untuk melindungi makam sang empunya.

Namun pemandangan iu berubah saat matahari menyingsing. Areal makam itu tampak ramai oleh perempuan berbaju seksi dan kerumunan orang. Tentu saja mereka bukan untuk berziarah, karena kondisi sudah malam dan gelap gulita.

Mereka merupakan pekerja seks komersil yang menjajahkan “dagangannya” untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Memang polemik memenuhi kebutuhan ekonomi menjadi salah satu alasan mereka nekat “begadang”.

Apakah ini merupakan “buangan” dari lokalisasi Dolly, namun memang rata-rata di areal ini wanitanya sudah terbilang berusia lanjut. Pantauan penulis usia mereka di atas 35 tahun. Demi memenuhi pundi-pundi ekonomi, kadang memang manusia bertindak diluar nalar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar