Kamis, 14 April 2011

MANDALA Airlines lakukan PHK besar-besaran



JAKARTA, KOMPAS.com — PT Mandala Airlines dikabarkan melakukan rasionalisasi besar-besaran terhadap para karyawannya. Ratusan pegawai maskapai yang telah berhenti beroperasi tersebut mengalami pemutusan hubungan kerja dari manajemennya.

Seorang karyawan Mandala mengatakan, pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran tersebut terjadi pada Maret lalu untuk hampir semua kantor di Indonesia. "Jumlahnya banyak sekali, mungkin ratusan. Namun, saya tidak tahu berapa tepatnya," kata karyawan yang tidak mau disebutkan namanya, Senin (4/4/2011) di Jakarta.

Menurutnya, karyawan Mandala sebelumnya berjumlah sekitar 880 orang. Namun, jumlahnya saat ini berkurang hampir setengahnya. Kabar lain yang belum bisa dikonfirmasi juga menyebutkan bahwa Mandala telah memangkas jumlah karyawannya hingga 80 persen. Bila hal itu benar-benar terjadi, maka kini jumlah karyawan maskapai yang telah terbang di Indonesia lebih dari 40 tahun tinggal kurang dari 200 orang.

Seorang karyawan yang terkena rasionalisasi juga mengatakan hal serupa. Menurutnya, pihak manajemen menjanjikan pesangon yang akan dibayarkan pada tiga bulan ke depan.

Menurutnya, karyawan tidak bisa menolak karena itu adalah satu-satunya langkah perusahaan untuk efisiensi agar calon investor mau bergabung dengan Mandala. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi dari manajemen Mandala. Presiden Direktur Mandala Diono Nurjadin belum bisa dikonfirmasi. Saat dihubungi, ponselnya tidak diangkat.

Demikian juga Head of Communication Mandala Nurmaria Sarosa, ia tidak mengangkat ponsel dan tidak menjawab pertanyaan melalui BlackBerry Messenger (BBM).

Mandala yang tadinya digadang-gadang menjadi salah satu maskapai dengan tingkat keselamatan tertinggi di Indonesia justru terpuruk setelah salah satu pemegang sahamnya, yaitu Indigo and Partners Corps yang memegang 49 persen saham, mengundurkan diri pada pertengahan Januari 2011.

Sebagai akibatnya, lima pesawat yang tersisa, yaitu Airbus A320 yang disewa untuk operasi penerbangan, akhirnya ditarik pemiliknya. Saat ini pihak menajemen sedang melakukan penjajakan dengan berbagai pihak untuk menyuntikkan modal agar mereka bisa terbang kembali. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar