Jumat, 08 April 2011

Kiat Pemain Deltras 8 Bulan Pemain Tak Gajian, "Nasib Klub "Profesional" LSI"


Kiat Pemain Deltras Bertahan Hidup setelah Delapan Bulan Tak Digaji

Jual Mobil, Kuras Tabungan, hingga Jadi Kuli

Nasib pemain Deltras makin tidak jelas. Memasuki bulan kedelapan, manajemen belum juga mencairkan gaji pemain. Bagaimana cara pemain bertahan hidup selama menunggu pencairan gaji? SIDIK MAULANA TUALEKA, Sidoarjo

DELAPAN bulan tidak digaji? Itulah nasib pengawa Delta Putra Sidoarjo (Deltras) saat ini. Mereka terpaksa harus menjalani hari-harinya serba terbatas. Itu terjadi sejak hak mereka selama delapan bulan belum juga dibayarkan manajemen. Padahal, semua kewajiban, seperti bermain dan berlatih, sudah mereka penuhi. Kondisi tersebut memaksa para pemain berjuang secara sendiri-sendiri untuk bertahan hidup di tengah ketidakpastian itu. Tidak pelak, banyak jalan pun ditempuh penggawa The Lobster, julukan Deltras.

Ya, demi memenuhi kebutuhan sehari- hari, sebagian besar di antara mereka terpaksa harus melego barang berharga yang mereka miliki. Misalnya, mobil dan sepeda motor. Ada juga yang hidup dengan mengandalkan tabungan hasil kontrak musim lalu. Parahnya lagi, ada di antara mereka yang rela menjadi kuli bangunan! ’’Kebutuhan setiap hari semakin berat. Itu membuat pengeluaran kami semakin banyak. Padahal, selama ini tidak ada pemasukan karena pembayaran gaji tidak lancar. Itu membuat saya tidak mampu lagi. Dengan terpaksa, saya harus menjual mobil,’’ keluh Sutikno, wing back kiri Deltras. Menurut pemain kelahiran Lamongan, 26 tahun lalu, itu, keputusan menjual mobil tersebut ditempuh karena kebutuhan keluarganya semakin mendesak.

Puncaknya setelah kelahiran anak pertamanya September tahun lalu. ’’Kalau masih sendirian, tidak apaapa. Kebutuhan belum banyak. Tapi, kondisi saat ini sangat berbeda karena harus berpikir untuk memenuhi keperluan anak. Salah satu di antaranya, membeli susu,’’ keluh mantan pemain Persitara Jakarta Utara’itu. Nasib yang sama juga dialami Dodok Anang Zuanto. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, pemain asli Sidoarjo ini terpaksa harus menjual satu-satunya sepeda motor yang dia miliki. Akibatnya, setiap berangkat latihan ke Gelora Delta Sidoarjo, Dodok harus meminjam sepeda motor tetangganya. ’’Mau bagaimana lagi, kenyataannya seperti ini,’’’ujar’pemain kelahiran Sidoarjo, 13 Januari 1983, itu.

Hal yang tidak kalah mengenaskan dirasakan Erfan Fabianto. Permain yang ikut mengantarkan Deltras promosi ke Indonesia Super League (ISL) itu terpaksa memanfaatkan waktu senggangnya untuk menjadi kuli bangunan di daerah Krian. Alasannya hanya satu, untuk memenuhi kebutuhan keluarga setelah manajemen selalu menunggak gaji mereka. Cerita sedih nasib pemain Deltras itu juga dirasakan pemain asing yang membela tim asal Sidoarjo itu. Marcio Souza, contohnya. Pemain asal Brazil tersebut menguras tabungan pribadi sisa kontrak saat membela Semen Padang di Divisi Utama musim lalu. ’’Untung ada tabungan sehingga kami bisa bertahan hidup di sini. Padahal, Anda tahu sendiri, kami tidak punya sanak saudara di Indonesia. Jadi mau ke mana kami harus meminta tolong selain tabungan,’’ tutur mantan penggawa Persela Lamongan itu. Bahkan, rekan senegaranya, Cristiano Lopes, diancam akan ditangkap sekembalinya ke Brazil karena dia disangka menelantarkan keluarganya di sana. (*/c4/aww)


Deltras Tidak Boleh Pakai APBD
29 Mar 2011

Bupati Sidoarjo Takut Cairkan Anggaran Rp IOM

SIDOARJO - Pupus sudah harapan Delta Putra Sidoarjo (Deltras) untuk mendapatkan kucuran dana dari anggaran pendapatan belanja daerah (APBD). Sebab, Bupati Sidoarjo Saiful Dah menegaskan, belum ada payung hukum yang jelas untuk mencairkan anggaran Rp 10 miliar dari APBD yang disetujui DPRD Sidoarjo itu.

"Sebenarnya dana itu (Rp 10 miliar, Red) sudah ada di kas Pemkab Sidoarjo. Hanya, kami takut untuk mencarikannya. Apalagi dana itu jelas-jelas tidak bisa digunakan untuk membayar gaji dan kontrak pemain," bilang Saiful dalam pertemuan antar pengurus Deltras dan Muspida Sidoarjo di Rumah Makan Podo Joyo, Sidoarjo, kemarin (28/3).

Menurut Saiful, sikap hati-hati tersebut perlu dilakukan. Mengingat, dia memiliki sejarah pahit mengenai penggunaan anggaran negara untuk membiayai tim kontestan Indonesia Super League (ISL). Saiful menjadi manajer Deltras pada musim 2008-2009.

"Sampai saat ini saya masih dicurigai mengorupsi uang Deltras".

Padahal, saat menjadi pengurus, dana yang saya keluarkan dari kantong pribadi juga tidak sedikit. Jadi, tidak gampang kalau mau mencarikan anggaran itu." sambung pria yang juga ketua umum Pengkab PSSI Sidoarjo tersebut.

Kendati begitu, dalam pertemuan yang dihadiri pengelola Deltras, DPRD Sidoarjo, Deltamania, dan wakil pemain Deltras tersebut. Saiful menyatakan akan menjalin komunikasi dengan beberapa pengusaha di Sidoafjotintuk memberikan bafm/an dana bagi Deltras.

"Teman-teman saya pengusaha cukup banyak di Sidoarjo. Kami akan mendekati mereka. Siapa tahu, mereka bisa membantu tim ini. Yang pasti, semua hak pemain akan dibayarkan. Sebab, saya berharap, tidak ada lagi aksi mogok dari mereka," urai dia.

Dalam kesempatan yang sama. Daud Budi Sutrisno, ketua DPRD Sidoarjo, mengatakan bahwa mereka akan berkonsultasi lagi dengan pihak-pihak terkait. Tujuannya, anggaran tersebut bisa dicarikan.

"Memang ada surat edaran Mendagri yang melarang penggunaan dana APBD untuk tim profesional. Nah, kami perlu berkonsultasi untuk mengetahui kapan surat edaran itu berlaku," papar Daud.

Sementara itu, Penanggung Jawab Deltras Vigit Waluyo menyatakan tidak memiliki kemampuan lagi untuk membiayai operasional tini tersebut. Sebab, semua dana pribadinya terkuras untuk Deltras.

"Besok (hari ini, Red) rumah saya di Sidoarjo akan dilelang senilai Rp 700 juta. Mau bagaimana lagi, sudah jatuh tempo. Pinjaman yang saya ambil untuk Deltras tak terbayar," ujar Vigit seraya menunjukan surat lelang tersebut (dik/cl3/aww)

Pemerintah Tarik Fasilitas PSSI, Dana Deltras Terkatung-Katung 
Selasa, 29 Maret 2011 | 15:31 WIB

TEMPO Interaktif, Sidorajo - George Handiwiyanto, kuasa hukum penanggungjawab Deltras Sidoarjo Vigit Waluyo meminta kepada Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga agar membuat aturan tertulis pasca-pembekuan PSSI, khususnya soal penarikan fasilitas di organisasi tersebut.
Berita terkait

Tanpa aturan tertulis, kata George, klub-klub peserta kompetisi di bawah PSSI akan bingung. "Kalau bisa Menegpora Andi Malarangeng harus segera menerbitkan Keputusan Menteri, jangan hanya lisan," kata George kepada Tempo, Selasa (29/3).

Kebingungan Deltras cukup beralasan. Sebab anggaran Rp 10 miliar dari Pemerintah Kabupaten Sidoarjo yang telah disetujui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah setempat menjadi terkatung-katung. Padahal saat ini para pemain Deltras menjerit karena telah lima bulan tidak gajian. "Kami jadi serbasalah," ujar dia.

Tapi dalam pemahaman George, pernyataan Andi soal penarikan fasilitas itu hanya berlaku pada organisasi PSSI. Adapun untuk klub, kata dia, tetap diperbolehkan menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. "Asal dipakai pembinaan, bukan untuk membayar gaji pemain," kata George.

Ketua DPRD Sidoarjo Dawud Budi Sutrisno mengatakan, dana Rp 10 miliar untuk Deltras tetap berlaku. Hanya saja, dalam pencairannya tidak bisa langsung diterima oleh pengurus klub berjurul The Lobster tersebut. "Karena ini sifatnya dana pembinaan, maka pencairannya harus lewat KONI Sidoarjo," kata Dawud.

Bupati Sidoarjo Saiful Ilah menambahkan, sebenarnya dana untuk Deltras masih utuh. Hanya saja, kata Saiful, tidak ada seorangpun yang berani mencairkan dana tersebut. "Takut kalau nanti berurusan dengan kejaksaan," kata Saiful.

KUKUH S WIBOWO

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar