Selasa, 19 April 2011

Kebacut! Guru SDN Kertajaya Paksa Siswa Isi Infaq


Senin, 18 April 2011 16:54:44 WIB
Reporter : Arif Fajar Ardianto

Kebacut! Guru SDN Kertajaya Paksa Siswa Isi Infaq 

Surabaya (beritajatim.com) - Semenjak program wajib belajar 9 tahun yang tentu gratis (bebas biaya) diterapkan pemerintah kota Surabaya, pihak sekolah yang terkena peraturan yakni SD dan SMP tidak bisa lagi menarik dana apapun dari siswanya, karena kebutuhan proses belajar mengajarnya telah ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah.

Rupanya hal ini tidak menyurutkan SDN Kertajaya dibawah pimpinan Kepala Sekolah Drs Moch Naim untuk tetap berusaha dapat menarik dana tambahan dari siswa, walaupun harus memakai cara menempatkan kotak infaq disetiap ruang kelas.

Fatalnya, peruntukannya tidak jelas tetapi setiap siswa 'diarahkan' untuk mengisi setiap hari pada saat proses belajar mengajar dilakukan.

"Kalau ngisi kotak ya jangan seribu rupiah, itu kebacut (keterlaluan)" ujar cetus salah satu siswa menirukan ucapan gurunya.

Jumlah ruangan kelas SDN Kertajaya tidak kurang dari 12 ruangan dan dipakai 2 kali pelajaran (masuk pagi dan siang) untuk klas A,B,C dan D, jika jumlah siswa tiap ruang 40 siswa dan setiap siswa mengisi kotak infaq minimal 1000 rupiah, maka setiap harinya sekolah dapat mengumpulkan dana sebesar Rp 1000 x 12 x 2 x 40 = Rp 960.000, jika 1 bulan maka Rp 960.000 x 24 hari = Rp 23.040.000 (dua puluh empat juta rupiah) dengan total pertahun sebesar Rp 276.480.000 (dua ratus delapan puluh delapan juta). Sungguh merupakan jumlah dana yang fantastis untuk sebuah sekolah dasar.

Menyikapi hal ini, Baktiono anggota Komisi D DPRD Surabaya mengatakan, bahwa tindakan yang dilakukan oleh SDN Kertajaya dianggap telah melannggar aturan yang ada, pasalnya dalam aturan, jelas disebutkan, bahwa setai sekolah yang menerima dana BOS, dilarang menarik dana apapun dari siswannya,

"Jika itu terjadi di SDN RSBI, ini jelas melanggar karena tidak ada aturan yang mendukungnya, dan saya menduga hal itu ada indikasi mensiasati aturan yang tidak memperbolehkan menarik dana apapun dari siswanya, karena disamping SPP yang telah ditanggung pemerintah, gaji gurunya juga sudah di lipat gandakan, jangan mencoba membuat aturan sendiri apalagi ada unsur pemaksan terhadap siswa" tegas Baktiono.

Sementara Moch Naim Kepala Sekolah SDN Kertajaya saat di hubungi media ini, mengatakan bahwa dirinya mengakui keberadaan kotak infaq disekolahnya, namun Naim mengatakan, bahwa bahwa hal itu menjadi urusan dan tanggung jawab Komitenya, pasalnya menurut Naim, pihak sekolah tidak pernah mendapatkan uang hasil dari kotak infaq tersebut.

Sementara itu, seorang Walimurid yang enggan disebutkan namanya, mengaku, bahwa anaknya memintah uang saku lebih, dikarenakan untuk mengisi kotak infaq yang disediakan di tiap kelas.

"Apapun kebijakan yang ada disekolah anak kami, pasti kami dengan terpaksa mengikuti dan menurut saja, karena jika tidak bisa berakibat fatal kepada anak kami, memang jumlahnya nggak besar, tetapi uang sakunya jadi membengkak karena ada kewajiban mengisi kotak infaq atas anjuran gurunya" ujar Anton.[rif/ted]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar