Jumat, 10 Juni 2011

Nelson Tansu: Profesor Termuda asal Indonesia di Lehigh University, Amerika


Nelson Tansu: Profesor Termuda asal Indonesia di Lehigh University, Amerika


Membaca namanya, orang mungkin tidak akan menyangka bahwa ia adalah orang Indonesia. Tapi jika membaca biografinya, barulah orang akan percaya bahwa sosok bernama Nelson Tansu tersebut adalah 100% Indonesia. Nelson Tansu adalah putra bangsa kelahiran Medan, 20 Oktober 1977 dengan segudang prestasi yang membanggakan dan sudah diakui dunia internasional. Bayangkan saja, pria Medan ini sudah meraih 11 penghargaan dan memiliki tiga hak paten atas penemuan risetnya. Selain itu, di usia yang belum menginjak 30 tahun, ia sudah meraih gelar profesor bidang electrical engineering di Amerika Serikat.

Dalam perjalanan hidup dan karirnya, Nelson mengakui mendapat dukungan yang besar dari keluarga terutama kedua orang tua dan kakeknya. “Mereka menanamkan mengenai pentingnya pendidikan sejak saya masih kecil sekali,” ujarnya.

Ketika Nelson masih SD, kedua orang tuanya sering membanding-bandingkan Nelson dengan beberapa sepupunya yang sudah doktor. Perbandingan tersebut sebenarnya kurang pas. Sebab, para sepupu Nelson itu jauh di atas usianya. Ada yang 20 tahun lebih tua. Tapi, Nelson kecil menganggapnya serius dan bertekad keras mengimbangi sekaligus melampauinya.

Waktu akhirnya menjawab imipian Nelson tersebut. “Jadi, terima kasih buat kedua orang tua saya. Saya memang orang yang suka dengan banyak tantangan. Kita jadi terpacu, gitu,” ungkapnya. Nelson mengaku, mendiang kakeknya dulu juga ikut memicu semangat serta disiplin belajarnya. “Almarhum kakek saya itu orang yang sangat baik, namun agak keras. Tetapi, karena kerasnya, saya malah menjadi lebih tekun dan berusaha sesempurna mungkin mencapai standar tertinggi dalam melakukan sesuatu,” jelasnya.

Nelson muda merupakan lulusan terbaik dari SMA Sutomo 1 Medan. Kecerdasannya juga mengantarkannya menjadi finalis dari Indonesia dalam sebuah olimpiade fisika internasional. Ia meraih gelar sarjana dari Wisconsin University yang ditempuhnya dalam 2 tahun 9 bulan dengan predikat Summa Cum Laude. Gelar PhD pun diraihnya dalam usia 26 tahun di universitas yang sama.

Nelson mengaku, orang tuanya hanya membiayai pendidikannya hingga sarjana. Selebihnya, karena otaknya yang encer, ia menjadi rebutan tawaran beasiswa. Dia juga merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi profesor di Lehigh University, tempatnya bekerja sekarang. Tesis doktoralnya mendapat award sebagai “The 2003 Harold A. Peterson Best ECE Research Paper Award” mengalahkan 300 tesis doktoral lainnya.

Lebih dari 84 hasil riset maupun karya tulisnya dipublikasikan di berbagai konferensi dan jurnal ilmiah internasional. Sering diundang menjadi pembicara utama di berbagai seminar, konferensi dan pertemuan intelektual, terutama di Washington DC.

Selain itu, dia sering datang ke berbagai kota lain di AS dan luar AS seperti Kanada, sejumlah negara di Eropa, dan Asia. Yang mengagumkan, sudah ada tiga penemuan ilmiahnya yang dipatenkan di AS, yakni bidang semiconductor nanostructure optoelectronics devices dan high power semiconductor lasers.

Biarpun sudah lama berada di Amerika Serikat, Nelson tetap memegang paspor hijaunya, dan tidak mengganti kewarganegaraannya. Di setiap kali memulai mengajar, Nelson selalu berujar “I am Nelson Tansu, and I am an Indonesian”.

Bulan Desember 2010 lalu , Nelson kembali ke tanah air dan bergabung bersama dengan ratusan ilmuwan Indonesia lainnya yang saat ini berkiprah di luar negeri. Nelson yang juga tergabung dalam Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4) dalam jajaran Dewan Penasehat yang telah turut menyumbangkan sumbangsih pemikirannya dalam International Summit 2010, sebuah forum yang diyakini akan membuka peluang kerjasama nyata antara ilmuwan Indonesia di luar negeri dengan para akademisi, pengusaha, hingga pemerintah Indonesia dalam pengaplikasian keilmuan yang dimiliki oleh para masing-masing pihak, untuk pembangunan Indonesia di berbagai sektor. Kegiatan yang berlangsung tanggal 16-19 Desember 2010 di Kantor Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta tersebut telah membagi kajiannya dalam 11 cluster, yakni ekonomi, energi, humaniora, IEE, RDE, inovasi, RIR, pendidikan, social science, teknologi dan ketahanan pangan, kedokteran dan bioteknologi. Masyarakat umum juga dapat mengikuti kajian-kajian dalam pertemuan tersebut dengan mendaftarkan diri melalui http://www.is.i-4.or.id/



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar