Selasa, 26 Juli 2011

efek negatif FB menyebabkan depresi

Situs jejaring Facebook menjadi tempat 'nongkrong' remaja saat ini. Facebook menjadi kontes popularitas seberapa banyak si remaja punya teman dan seberapa sering ia di-tag fotonya. Remaja yang gagal 'gaul' di Facebook cenderung menjadi menjadi depresi.

Depresi Facebook dapat mempengaruhi remaja yang terobsesi pada situs online. Remaja-remaja yang gagal 'gaul' di Facebook akan menjadi remaja yang rendah diri. Kondisi seperti ini menurut psikolog dan dokter anak patut diwaspadai orangtua agar si remaja tidak depresi karena Facebook.

"Ada aspek-aspek unik dari Facebook yang dapat membuat sebuah lanskap sosial yang sangat sulit diikuti oleh anak-anak yang rendah harga dirinya," kata Dr Gwenn O'Keeffe, seorang dokter anak di Boston dan penulis American Academy of Pediatrics seperti dilansir dari MSNBC, Selasa (26/7/2011).

Dengan menghitung jumlah teman, update status dan foto-foto bersama teman, Facebook bisa membuat beberapa anak merasa buruk jika tidak bisa melakukan hal yang serupa. Hal itu konon lebih menyakitkan daripada duduk sendirian di kantin sekolah yang ramai.

Menurut O'Keaffe, Facebook memberikan pandangan berbeda dari apa yang sebenarnya terjadi. Karena berbentuk online, tidak ada cara untuk melihat ekspresi wajah atau membaca bahasa tubuh yang nyata sesuai konteks.

Oleh sebab itu, penting bagi orangtua untuk berbicara dengan anak-anaknya tentang penggunaan online dan menyadari ancaman depresi Facebook, cyberbullying dan risiko online lainnya. Temuan ini dipublikasikan secara online di jurnal Pediatrics.

Seorang siswa SMP di Chicago bernama Abby Abolt, 16 tahun, mengaku Facebook tidak pernah membuatnya merasa tertekan tapi dia bisa memahami bagaimana Facebook bisa membuat tertekan beberapa anak lainnya.

"Jika Anda benar-benar tidak memiliki banyak teman dan tidak benar-benar melakukan banyak hal dengan kehidupan Anda, lalu melihat status orang lain, gambar dan apa yang mereka lakukan dengan teman-teman, aku bisa melihat bagaimana mereka bisa marah," katanya.

"Ini seperti sebuah kontes popularitas yang besar, siapa yang bisa mendapat permintaan teman paling banyak atau mendapatkan foto yang paling banyak di-tag," lanjut Abby.

Gaby Navarro, 18 tahun, siswa senior dari Grayslake, Illinois juga berpendapat sama, bagaimana Facebook bisa membuat remaja tertekan. Apalagi di Facebook menurutnya sering terjadi pelecehan online.

"Banyak remaja mengirimkan pesan kotor atau menghakimi orang yang mereka tidak suka di dinding Facebook", kata Gaby.

Pelecehan secara online menurut O'Keeffe dapat menyebabkan efek psikososial yang mendalam, termasuk bunuh diri. "Facebook adalah tempat di mana semua remaja nongkrong sekarang. Ini seperti sudut toko mereka," kata O'Keeffe.

Meski ada efek sampingnya, O'Keeffe mengakui Facebook memberikan manfaat bagi remaja yang terhubungkan kembali dengan teman dan keluarga, berbagi foto dan bertukar ide.

Sedangkan Dr Megan Moreno dari University of Wisconsin yang mempelajari jaringan sosial online di kalangan mahasiswa mengatakan, menggunakan Facebook dapat meningkatkan perasaan keterhubungan sosial di kalangan remaja, namun juga memiliki efek berlawanan pada orang-orang yang rentan terhadap depresi.

http://www.detikhealth.com/read/2011...ngintai-remaja

hati2..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar