Kamis, 24 Februari 2011

Hati2 gan ini salah satu hal bisa Picu Kanker


INILAH.COM, Jakarta - Siapa tidak mengenal kolesterol? Kata yang sering membuat kita tersentak itu ternyata sangat berbahaya bagi kesehatan. Karena kadar kolesterol terlampau rendah bisa jadi 'pertanda' kanker.

Kolesterol merupakan molekul sejenis lipid dalam aliran darah. Kolesterol diproduksi hati dan dibutuhkan untuk proses metabolisme tubuh. Kolesterol bermanfaat untuk pembentukan selaput sel, beberapa hormon tertentu, dan jaringan yang diperlukan lainnya.

Kadar kolesterol dalam darah yang normal adalah kurang dari 200 miligram per dL, kolesterol jahat (LDL) kurang dari 130 mg/dL, kolesterol HDL lebih dari 45 mg/dL, dan trigliserida kurang dari 200 mg/dL. Seseorang dinyatakan kelebihan kadar kolesterol dalam darah atau kolesterol tinggi, jika total kadar kolesterol mencapai lebih dari 240 mg/dL. Kelebihan kolesterol jahat bisa mengakibatkan penumpukan lemak yang menyumbat pembuluh darah.

Di lain pihak kolesterol terlalu rendah atau kurang dari 160 mg/dL ternyata juga tidak dianjurkan karena berbahaya bagi kesehatan, bahkan bisa memicu timbulnya gejala kanker.

Seperti dikutip dari Journal Cancer Epidemiology, Biomarkers and Prevention, peneliti menemukan hubungan antara kolesterol dan kanker. Disebutkan peneliti, seseorang dengan total kolesterol (LDL dan HDL) yang rendah cenderung mengalami penyakitkanker yang lebih tinggi.

Fakta ini memang sedikit membingungkan, karena selama ini orang menganggap kolesterol rendah bisa mencegah penyakit jantung dan stroke. Tapi Dr Demetrius Albanes dari National Cancer Institute mengatakan bahwa tingkat kolesterol yang rendah adalah pertanda, bukan penyebab pasti kanker.

"Jika kadar kolesterol sudah sangat rendah, bisa jadi itu pertanda kanker yang tidak terdiagnosa," ujar Albanes seperti dikutip dari Health24 beberapa waktu lalu.

Selama 18 tahun, peneliti melakukan investigasi terhadap 30.000 partisipan. Selama studi berlangsung, 7.545 partisipan meninggal dunia karena kanker. Setelah dianalisis, ternyata partisipan yang meninggal dunia akibat kanker cenderung memiliki kadar kolesterol rendah.

"Mereka yang memiliki level kolesterol di bawah standar (230 mg/dL) punya risiko kanker 18% lebih tinggi dibanding mereka yang kolesterolnya normal," jelas Albanes.

Ini berbeda dengan partisipan yang tingkat kolesterolnya tinggi, yang risiko terkena kankernya hanya 14%. Penemuan ini menunjukkan bahwa jumlah serum kolesterol total ada hubungannya dengan penyakit kanker dan bisa menjadi acuan untuk melakukan deteksi kanker lebih dini.

"Studi ini menarik namun perlu dikembangkan dan dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui perbandingan risikonya antara pria dan wanita dan jenis kanker apa saja yang mungkin terjadi jika kolesterol rendah," ujar Eric Jacobs dari The American Cancer Society.

Melanjutkan studi ini berdasarkan jenis kelamin dianggap penting karena studi sebelumnya yang diteliti Elizabeth Platz dari Johns Hopkins University, Baltimore justru menemukan bahwa pria yang kolesterolnya rendah lebih jarang terkena kanker prostat.

Dalam studi yang melibatkan 5.586 pria di Amerika itu, terbukti bahwa kadar kolesterol rendah (di bawah 200 mg/dL) bisa menurunkan risiko kanker prostat hingga 60%. Fakta ini justru berlawanan dengan studi terkini yang dilakukan Albanes dan rekannya.

Kolesterol seimbang

Sementara itu, meski kadar kolesterol dalam darah dipengaruhi makanan berlemak yang kita santap, sesungguhnya peningkatan kolesterol tidak terjadi dalam satu malam. Butuh proses bertahun-tahun, bahkan sejak masa kanak-kanak.

Itu sebabnya jika Anda ingin menjaga kadar kolesterol dalam level normal, Anda harus memulainya sejak usia muda. Penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa kadar lemak darah (kolesterol dan trigliserida) di usia dewasa berkaitan dengan gaya hidup di usia anak-anak.

Meski kadar kolesterol di usia remaja tinggi, sebenarnya jika kita memiliki gaya hidup sehat, misalnya tidak merokok dan tidak kegemukan, kita tetap bisa menjaga kadar kolesterol dalam kondisi normal.

Ini terbukti dari penelitian yang dilakukan Costan G Magnussen dari University of Tasmania, Australia. Ia dan timnya menganalisis kadar kolesterol dan trigliserida 539 orang, dimulai ketika masa remaja dan dilanjutkan di usia dewasa.

Pemeriksaan pertama dimulai ketika partisipan berusia 9 tahun, 12 atau 15 tahun di tahun 1985 lalu dilanjutkan lagi pada 2004 dan 2006 ketika mereka berusia 20-an dan 30-an tahun. Pada anak, salah satu pemicu kolesterol tinggi adalah kurang bergerak, kegemukan, dan kebiasaan mengonsumsi makanan berlemak.

"Sebenarnya meski kadar kolesterol awal tinggi, di usia dewasa tidak selalu kadarnya akan tetap tinggi. Kecuali pada partisipan yang merokok, mereka ini kolesterolnya cenderung bertambah tinggi," kata Magnussen. [mor]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar