Selasa, 04 Januari 2011

Desain Rumah Tanggap Banjir



SEJATINYA, banyak pertimbangan yang perlu dipikirkan saat orang ingin membeli rumah. Selain rumah tersebut harus cantik secara visual, pertimbangan lain adalah rumah juga harus aman dari banjir.

Tahap perencanaan, seperti menentukan konsep atau tema sebuah hunian memang sangat penting saat akan merancang rumah. Namun, akan lebih baik jika kita tepat dalam memilih lokasi hunian yang baik untuk rumah, baik dalam arti tidak rawan banjir.

Menurut arsitek Briyan Talaosa, konsep desain rumah yang tanggap terhadap banjir tidak dapat terwakili oleh sebuah model atau gaya tertentu. Kecermatan memilih dan menyiasati lokasi rawan banjir dengan konsep menyeluruhlah yang harus dilakukan dalam skala kawasan, bukan skala siteper 1 unit hunian. Ambil contoh, dia menyebutkan, permukiman pada lokasi pasang surut air laut. Bisa saja hunian yang berada pada lokasi tersebut dibuat konsep rumah apung yang dapat beradaptasi dengan ketinggian air. Tapi, dalam kasus lain, belum tentu rumah apung cocok untuk daerah banjir yang lokasinya berada di tanah darat.

”Itu artinya, desain atau konsep yang tanggap terhadap banjir akan berlaku, tapi sangat bergantung pada lokasinya,” kata Briyan. Untuk itu, hal paling penting untuk mendesain rumah tanggap banjir adalah perencanaan awal, yakni calon pembeli cermat dalam memilih lokasi rumah. Cermat dalam arti, sebelum membeli rumah, perhatikan dulu kawasannya, apakah wilayah tersebut rawan banjir atau tidak? Sebab, dalam kasus-kasus tertentu, sejumlah pengembang perumahan kadang memaksa membangun hunian, padahal lokasi perumahan yang justru rentan terhadap banjir.

Kalaupun keadaan memaksa Anda untuk membeli rumah di kawasan rentan banjir, hal penting yang harus dilakukan adalah bagaimana menyiasatinya. Dalam kasus ini, Briyan mengatakan, pemecahan yang paling sederhana adalah peninggian pail lantai bangunan atau diuruk, ditinggikan dengan tanah.

Untuk meninggikan pail lantai bangunan, Briyan menyarankan, sebaiknya perhatikan dulu kekuatan struktur bangunannya. Siapkan fondasi dan kolom struktur untuk menahan beban bangunan tambahan yang ”muncul” ketika peninggian lantai dilakukan. Sebab, tidak hanya lantai yang harus ditinggikan, dinding dan atap juga perlu ditambah tingginya. Apalagi jika peninggian ditambah menjadi dua atau tiga lantai.

Peninggian lantai pada bangunan biasanya diikuti dengan peninggian level plafon kecuali pada kasus tertentu. Misalnya, dia menyebutkan, bangunan yang sudah 2 lantai dengan lantai atas sudah terbuat dari beton. Jika tinggi ceiling tidak mencukupi, tapi penghuni tetap tidak mau membongkar lantai 2, biasanya plat lantai atas sekaligus digunakan sebagai plafon beton ekspose.

”Tinggi plafon ideal biasanya berada pada ketinggian sekitar 275-350 cm, atau disesuaikan dengan proporsi ruang,” sebut Briyan.

Selain itu, bentuk antisipasi lain yang dapat kita gunakan untuk menyiasati banjir, yaitu membuat tanggul beton. Tanggul ini berfungsi sebagai penahan air dan biasanya dibuat pada area yang bersentuhan langsung dengan area di luar hunian. Namun, biasanya cara ini dilakukan jika genangan banjir hanya pada ketinggian rendah, seperti banjir semata kaki dan frekuensi banjirnya tidak terlalu sering.

Pemecahan lain yang dapat dilakukan, yaitu pembuatan sistem pengelolaan limbah (SPL) yang terencana dengan baik dan drainase yang memadai pada lingkungan hunian. Caranya, bisa dibuatkan titik resapan dalam skala tertentu yang dapat menampung air hujan atau air limbah rumah tangga lain untuk masuk meresap ke dalam tanah sebelum sisanya mengalir ke sistem drainase lingkungan.

Faktor lain yang tentu saja penting untuk dilakukan adalah pola kebiasaan dalam memperlakukan limbah padat atau sampah rumah tangga yang harus dikumpulkan untuk dapat dibuang sampai ke tempat pembuangan sampah akhir tanpa harus mampir dulu ke sistem drainase lingkungan atau drainase kota.
(SINDO//tty)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar