Selasa, 05 April 2011

Pertarungan Idealis dan Pragmatis di PKS Dari Sembunyi hingga Terbuka


Selasa, 05/04/2011 02:30 WIB


Ronald Tanamas 



Jakarta - Gerakan di bawah tanah ini berawal dari pertemuan kecil aktivis mahasiswa di universitas negeri di seluruh Indonesia. Tujuan gerakan ini untuk membentuk Islam sebagai “jalan hidup” di setiap kegiatan termasuk politik 


Partai Keadilan Sejahtera (PKS) awalnya bernama Partai Keadilan (PK). Organisasi ini merupakan perkumpulan dari kaum intelektual muda muslim. Sejarah pendirian partai tersebut berawal dari pertemuan-pertemuan kecil mahasiswa yang berbasiskan agama. Pertemuan tersebut dilakukan secara rutin, di mana dalam setiap pertemuannya diisi dengan diskusi kelompok kecil yang disebut dengan halaqah.

Tahun 1970 mentor pertama dari pertemuan tersebut Imaddudin Abdul Rahim atau dipanggil dengan Bang Imad. Mentor ini merupakan aktivis mantan mahasiswa dan dosen kharismatik di Intitut Teknologi Bandung (ITB). Bang Imad yang memperkenalkan gerakan tersebut di kalangan aktivis mahasiswa di ITB.

Tujuan dari gerakan aktivis mahasiswa tersebut mengajarkan bagaimana para peserta memahami Islam sebagai “jalan hidup” dan bagaimana menerapkannya dalam semua kegiatan termasuk politik. Patokan gerakan ini mengacu kepada gerakan Ikhwanul Muslimin (IM) besutan Hasan Al Banna.
Selain yang disebutkan di atas pergerakan dari Bang Imad awalnya bertujuan untuk menghadapi gerakan sekuler yang dibentuk almarhum Nurcholis Madjid. 

Bang Imad yang memiliki jaringan luas di kalangan mahasiswa dalam negeri dan dunia internasional berhasil mempersatukan kalangan kaum intelektual di seluruh negeri. Sehingga pada tahun 1980 metode pengajaran Imad tersebut diadopsi oleh aktivis di seluruh universitas negeri di Indonesia.

Aktivis mahasiswa yang solid dan biasa dikenal dengan gerakan aktivis tarbiyah itu kemudian menentukan tujuan gerakan bawah tanahnya setelah runtuhnya rezim orde baru pada tahun 1998. Mereka kemudian berkumpul di daerah Bogor dan berusaha mencari jalan agar gerakan mereka bisa menjadi legal dan terbentuknya sebuah organisasi.

“Gerakan tersebut terbagi menjadi dua tim. Tim pertama membahas gerakan politik yang baik dan tim kedua membentuk organisasi sosial. Namun di tengah jalan kemudian memutuskan untuk membentuk sebuah partai. Karena partai akan lebih efektif untuk mewadahi gerakan tersebut,” kata sumber today.

Sehingga sejarah mencatat, aktivis yang berkumpul tersebut berhasil membentuk sebuah partai pada tanggal 9 Agustus 1998 dengan nama Partai Keadilan di Mesjid Al-Azhar, Jakarta Selatan.
Deklarasi partai pendiriannya ditandatangani oleh 52 aktivis, termasuk Hidayat Nur Wahid (yang kemudian akan menjadi pembicara dari MPR antara 2004 dan 2009), Ahmad Heryawan (sekarang Jawa Barat Gubernur), Nur Mahmudi Ismail (sekarang Depok walikota) , Suharna Surapranata (sekarang Menteri Riset dan Teknologi), Salim Segaf Al Jufri (sekarang Menteri Sosial), dan Fahri Hamzah (sekarang PKS anggota parlemen).

Presiden partai pertama disepakati ditunjuk Nur Mahmudi Ismail. Latar belakang Nur Mahmudi yang pernah menimba ilmu di dunia barat dinilai bisa mengakomodir kemauan organisasi tersebut.

Salah satu pendiri partai Syamsul Balda mengatakan tujuan pembuatan partai tersebut untuk menciptakan kaum muda yang intelektual. “Inilah yang menjadi kunci partai bagi pemilih,” kata Syamsul Bada.

Menurut Syamsul, kandidat kuat untuk menduduki presiden partai ditunjuk tokoh reformasi Amien Rais. Namun sayangnya Amien Rais menolak dengan alasan membutuhkan perahu yang lebih besar dibandingkan PK untuk kendaraan politiknya.

Sayangnya proses idealism yang selama ini digadang-gadang kaum muda intelektual itu hanya berlangsung selama 1 tahun saja. Menurut sumber today, percikan pragmatis sudah terlihat yang ditelurkan oleh Nur Mahmudi Ismail pada pertengahan tahun 1999. Dan mulai dijalankan secara terbuka pada tahun 2005. Di mana saat itu Hilmi Aminuddin resmi memimpin Majelis Syuro. (ron/ajt)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar