Rabu, 06 April 2011

DIRECTOR'S STATEMEN :LOST IN PAPUA


DIRECTOR'S STATEMEN :

Saat ini, budaya dan Pariwisata papua Selatan memang agak sulit untuk diangkat ke layar lebar. banyak sekali hal yang harus kita hormati menyangkut kesakralan budaya disana. tidak seperti di wilayah Papua tengah dan Barat dimana beberapa kali film Indonesia pernah dibuat disana. Lalu saya bertanya kalau menunggu terus sampai kapan ada yang berani mengangkat budaya Papua Selatan ?
sayalah sebagai anak kelahiran Papua yang harus mengangkat itu semua itu karena selama ini kita sudah terlalu sering didahului oleh orang orang barat yang datang secara ilegal membuat dokumenter budaya Papua Selatan untuk kepentingan mereka tanpa memberikan dampak positif bagi orang orang papua sendiri. sementara orang orang Indonesia ? mungkin mereka takut dengan biaya hidup yang tinggi dan kesulitan menembus birokrasi pemerintahnya di kota. hanya orang orang Barat saja yang selama ini berani menempuh resiko kendala kendala ini alias nekad. seperti dokumenter2 buatan BBC disini : http://www.youtube.com/watch?v=gX6T2...7A8C0755C33527

itulah yang menjadi buah pemikiran saya. kalau orang Barat saja dengan nekad datang mengabadikan budaya kami walau tanpa diberikan kemudahan, mengapa saya harus diam disaat saya sebagai putra daerahnya diberikan kemudahan mengakses semua budaya dan pariwisata itu ?

jika selama ini orang hanya mengenal Koteka saja di Wamena, setiap ingat Papua orang hanya tahu koteka. masa ketika kita mau ke Merauke ada yang nanya : titip koteka ya ? saya ketawa ? memangnya dia kira Papua itu hanya Koteka saja ? padahal sebenarnya di Papua itu masih banyak kekayaan budaya lainnya yang lebih menarik dibanding koteka. 
di merauke orang tidak mengenal Koteka. suku korowai yang tampil dalam film Lost in Papua ini aslinya tidak memakai apa apa.

Papua itu luas sekali itu yg ingin saya sampaikan. selama ini pandangan orang luar terhadap Papua terlalu sempit dan itu harus dibuka.
Masih banyak wilayah Papua yang belum terjamah, yang belum terekpose dan masih menjadi misteri seperti yang terpapar dalam film ini.
semoga film ini akan memberi sebuah wawasan baru kepada orang orang diluar Papua yang selama ini memandang sempit Papua.

perjuangan untuk mewujudkan film ini sangat berat, banyak sekali kendala yang dihadapi. jangankan membuat sebuah adegan perang suku begini membuat drama saja sudah sulit di daerah Papua Selatan. tidak mudah mengangkat sebuah budaya atau suku kedalam layar lebar karena perlu pendekatan sebagai sesama anak Papua untuk bisa diijinkan mengangkatnya. beberapa kru dari Jakarta mengakui memang tak mudah mengambil gambar di Papua dimana semua tanah diklaim sebagai hak adat. belum lagi dengan tingginya sensitivitas adat disana yang tidak sembarangan memperbolehkan mengeksploitasi sebuah adat tertentu.

Mengapa gaya bercerita film saya tidak seperti Laskar pelangi ataupun Denias ?
Jawabannya sederhana saja, karena saya ingin memberikan sebuah gaya dan warna berbeda dari film film yang selama ini dibuat didaerah daerah seluruh Indonesia. mencoba membuat style dan genre yang lebih unik ketimbang drama yang selama ini sudah terlalu sering dibuat.

Selama ini film film yang mengangkat budaya lebih cenderung ke drama dan itu agak sulit untuk diterima oleh kalangan muda yang menggemari film film luar. Ketika budaya diangkat yang menontonnya sudah keburu merasa seperti film penyuluhan wisata. makanya di fim ini kemasan yang dibuat lebih ringan dan bersifat hiburan dengan genre komersil, sehingga budaya yang disampaikan akan masuk ke anak anak muda yang sebelumnya tidak tertarik melihat budaya Indonesia. Karena itu pula cerita filmnya akan dikemas dalam sebuah FIKSI.

Budaya yang kami angkat disini pun hanyalah budaya secara umum yang telah disetujui, sebab biar bagaimanapun kami tentu menghargai ada budaya budaya khusus tertentu yang memang sangat sakral dan dilarang diangkat.


ceritanya bersifat Fantasi dan bukan dokumentry karena itu ada beberapa adegan yang memang merupakan khayalan penulis dan bukan realitas sesungguhnya.
sebab ide cerita ini berawal ketika kita ingin membuat sebuah film action di Papua, sementara jika membuat action maka harus ada karakter yang baik dan yang jahat. karena itulah kemudian muncul sebuah khayalan berdasarkan suku yang jadi mitos ini untuk ditempatkan kedalam karakter suku yang jahat yang akan berperang dengan suku Korowai. 

Tujuan paling simple dari film ini adalah : menunjukkan keunikan dan kekayaan wisata, budaya di papua Selatan serta segala misterinya yang selama ini belum pernah anda lihat. (bukan hanya untuk orang luar Papua saja tapi juga banyak anak anak Papua sendiri yang tidak mengetahui dan mengenal budaya budaya yang kami angkat di film ini )

namun sekalipun mengangkat Budaya dan Pariwisata di Papua Selatan, film ini tetap dikemas ceritanya secara komersil mengikuti selera pasar masa kini. itu membuktikan bahwa memperkenalkan budaya tidak selamanya hanya dengan membuat cerita drama yang sifatnya mengekspose pemandangan alamnya saja. tetapi bisa juga dikemas kedalam sebuah cerita yang Fantasi, Action dan Adventure. 
Karena itu, alur cerita filmnya tidak menawarkan sesuatu yang berbeda tetapi sederhana saja dan konvensional berdasarkan alur yang selama ini sering digunakan di film film Barat, yang membedakan adalah isi filmnya yang dikemas berbeda.
Maka dari itu jangan heran jika banyak adegan adegan yang tak terduga muncul dalam film ini. selayaknya sebuah film hiburan semoga film ini tidak terlalu ditafsirkan secara serius namun dapat di petik pesannya secara universal.

Yang coba saya lakukan di film ini adalah mencoba menempatkan Pariwisata dan budaya ethnic kedalam sebuah susunan kemasan cerita komersil alias "pasaran" agar budaya tersebut tidak menjadi kaku terlihat dan bisa dinikmati di pasar film secara umum dan luas bukan secara khusus seperti film film yang mengangkat budaya selama ini yang hanya disukai penonton tertentu saja.


PESAN FILMNYA ADALAH :
AGAR KITA MENGHARGAI ALAM DAN JANGAN MERUSAK KEHIDUPAN DI DALAMNYA ( sedikit menyindir tentang eksploitasi tambang di Papua yang tidak terlalu memberikan manfaat bagi warga sekitarnya )

sekaligus memperlihatkan bahwa hutan Papua masih mengandung banyak misteri yang belum terpecahkan hingga saat ini.
jika dalam film ini hanyalah sebuah khayalan dan Fiksi dari kami tapi mungkin saja apa yang ada disana jauh lebih misteri dari yang kami khayalkan dalam film ini.

ada penampakan beberapa adegan modern dalam film ini seperti swalayan,cafe, serta diskotik adalah semata mata untuk memberikan gambaran bahwa papua sudah maju juga bukan seperti hutan yang selama ini dipikirkan orang. semua fasilitas hiburan sudah ada di Papua

Papua Selatan kurang menjual secara pemandangan dan Landscape jadi jangan mengharapkan keindahan landscape disini yang ada hanyalah keindahan budayanya.
keindahan Landscape adanya di Papua tengah dan Barat saja.


FOTO FOTO BEHIND THE SCENE :


FILM INI DI KERJAKAN SECARA BERSAMA SAMA ANTARA KRU PROFESIONAL DARI JAKARTA DENGAN KRU KRU LOKAL ASLI ANAK ANAK MUDA PAPUA.
PRODUCTION HOUSENYA PUN SALAH SATUNYA ADALAH PH LOKAL YANG DIDIRIKAN DI KOTA MERAUKE OLEH 2 BERSAUDARA PENCETUS IDE FILM INI.

Itulah yang membedakan dengan film film yang selama ini pernah dibuat di Papua. Inilah pertama kalinya di Indonesia karya PH lokal yang bersinergi dengan PH Nayacom di Jakarta beserta buah tangan dari anak anak asli Papua ditampilkan secara Nasional di bioskop seluruh Indonesia.





FENOMENA GARIS MERAH DI PAPUA SELATAN :

Garis merah adalah sebuah simbol bagi aturan adat didaerah Papua bagian selatan. dalam beberapa adat suku marind jika sebuah keluarga mengalami kedukaan maka mereka akan memasang patok merah sebagai tanda tidak boleh ada yang melintas didaerah rumah mereka menggunakan kendaraan.
Jika ada yang melanggar atau tidak sengaja maka akan dikenakan denda adat.

ketika kami mengadakan syuting film ini pun, lokasi tempat kami syuting dihari pertama dipasangi patok merah. itu tandanya lokasi tersebut belum di setujui oleh adat. setelah kami mengadakan pesta adat barulah lokasi itu dicabut patok merahnya sebagai pertanda bahwa syuting telah direstui secara adat.

semua fenomena ini menandakan bahwa kita harus wajib menghargai adat adat ketika kita berada di negeri orang. jangan menganggap enteng sebuah adat istiadat atau kultur disebuah tempat jika kita ingin dilancarkan.

maka film lost in papua ini pun menggambarkan itu kedalam sebuah cerita tentang adanya garis merah dan larangan memasuki hutan tersebut. dan jika larangan itu masih dilanggar juga maka silahkan menanggung sendiri akibatnya tanpa harus menyalahkan ke larangan tersebut.

Wah wah wah, miris juga kalau baca ada tanggapan orang yang mempolitisir film ini seakan akan membuat takut orang ke Papua.

jawaban saya : sebutkan bagian mana adegan yang menakuti orang tersebut untuk ke papua ?
bukankah kebalikannya ? tokoh nadia awalnya takut ke papua namun kemudian kakeknya menjelaskan bahwa Papua tidak seseram yang dibayangkan.

dan setelah mereka sampai di papua ? semuanya sangat senang dan nyaman kan ? bahkan hingga masuk ke kampung suku korowai dan menikmati keindahannya

petakanya bermulai gara gara ulah mereka sendiri yang memasuki hutan yang sudah dilarang oleh Pace Markus. jadi dimana kesalahannya ?
justru film ini mengajarkan agar kita tunduk pada aturan aturan setempat di suatu daerah. dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.

dan ingatlah berkali kali dalam film ini diucapkan bahwa suku perempuan itu hanyalah mitos.

makanya aneh sekali jika masih ada saja orang yang terlalu menanggapi fiksi menjadi realitas. apalagi sampai berkesimpulan adegan sadisnya membuat orang takut ke Papua.
lalau apakah juga selama ini orang akan takut ke daerah jeruk purut gara gara film hantu jeruk purut ?
apakah orang akan takut ke bali gara gara ada film leak ?
apakah orang akan takut ke pantai selatan gara gara ada film Ratu pantai selatan atau nyi roro kidul ?
apakah orang juga akan takut ke hongkong gara gara banyak film hongong bercerita tentang perkelahian antara geng mafia ? 
ah terlalu berlebihan kayanya kalau menganggap penonton kita sebodoh itu menganggap film kayak betulan. emangnya dia menonton dokumenter ? yang ditonton kan hanyalah fiksi. dan sudah berkali kali dijelaskan dalam film bahwa itu hanyalah mitos.

SEDIKIT ULASAN MENGENAI BAGAIMANA MITOS SUKU HILANG HILANG/SUKU PEREMPUAN DALAM FILM LOST IN PAPUA VERSI MASYARAKAT BOVEN DIGOEL.

MITOS YANG MEMBELA KAUM WANITA

Mitos ini memang bukan mitos yang populer disana. ceritanya hanya akan kita ketahui apabila kita bertanya. jika mengharapa akan mendapatkannya sebagai dongeng gratis jangan harap. itulah makanya tidak heran jika janganlkan orang diluar Papua yang tidak tahu mitos ini, bahkan orang di Papua bagian Barat dan tengah pun sulit mengakui adanya mitos ini sebab memang yang tahu hanya masyarakat di boven digoel saja.
ceritanya pun berbeda beda versi ada yang cerita bahwa mereka bersuamikan seekor anjing. ada pula yang menyebut bahwa jika perkampungan itu didatangi maka akan hilang dengan sendirinya makanya disebut suku hilang hilang. tapi mitos ini kemudian menjadi menarik diangkat takkala saya mendapatkan sebuah analisa dari Bapak Daud Holinger kepala dinas kebudayaan Merauke yang juga ikut bermain di film ini sebagai pace markus.

menurut Pak Daud Mitos ini justru muncul sebagai simbol pemberontakan kaum wanita atas dominasi kaum pria yang dirasa sering menindas hak hak kaum wanita. makanya mitos ini kemudian muncul untuk membela kaum wanita. bahwa sebenarnya kaum wanita pun bisa hidup tanpa pria. sebab yang mereka butuhkan dari pria sebenarnya hanya untuk menyambung keturunan saja diluar itu mereka pun bisa hidup sendiri bahkan bisa lebih kuat dari kaum pria. mereka bisa membangun perkampungan sendiri tanpa dominasi kaum pria lagi.

jika selama ini wanita yang digambarkan lemah tak berdaya dan sering diinjak oleh kaum pria, difilm ini justru kebalikan yang akan kita lihat dimana kaum wanita membuat para pria tak berdaya dan menjadi lemah dihadapan mereka.

makanya saya justru heran jika ada yang salah menanggapi adegan suku wanita dalam film ini sebagai pelecehan wanita sebab bukankah justru yang dilecehkan disitu adalah kaum prianya ? yang diperkosa, yang dibunuh kan kaum pria jadi yang dilecehkan sebenarnya adalah kaum pria. kaum wanita disitu dibuat hebat dan berhasil menginjak nginjak pria sesuai gambaran mitos tsb.

Kita harus kembali sadar bahwa Mitos ini sebenarnya muncul untuk membela posisi kaum wanita yang selama ini selalu direndahkan kaum pria.

untunglah ini semua hanya sekedar mitos,...bagaimana jika hal seperti ini benar benar terjadi dikehidupan ini ?
karena itu lah pria harus selalu menghargai wanita dan jangan merendahkannya, jangan sampai kaum wanita menjadi marah dengan kaum pria dan akhirnya membentuk perkampungan ekslusif seperti di film ini kan bisa bahaya kaum pria jadinya....

BEBERAPA LANGKAH YANG AKAN DILAKUKAN UNTUK MENGHINDARI KESALAH PAHAMAN TERHADAP FILM INI MAKA TELAH DIPUTUSKAN UNTUK PENAYANGAN BERIKUTNYA TERMASUK DI DVD/VCD NYA :

1. mengganti judul film tanpa membawa nama Papua lagi sebab kejadian yang diangkat dalam film ini dan dipermasalahkan adalah hanya di daerah Merauke dan Boven Digoel saja bukan di Papua secara keseluruhan. jadi sepantasnyalah kedua daerah tsb saja yang akan bertanggung jawab terhadap judul film ini nantinya. pergantian judul ini akan diperkuat oleh surat keputusan dari kedua daerah yang mempunyai hak dalam film itu yakni merauke dan Boven Digoel sehingga setelah itu kelak yang mempunyai hak memprotes film ini hanyalah kedua daerah ini saja. 

2. memperhalus beberapa adegan dari film ini menjadi layak ditonton semua orang dan tidak lagi berkategori dewasa. begitupula dgn memotong dialog yang bisa memicu pemahaman negatif dari penonton sekalipun maksudnya sendiri tidak negatif. 

3. menambahkan tulisan diawal film : PENGGAMBARAN KISAH SUKU PEREMPUAN DALAM FILM INI HANYALAH SEBUAH MITOS/CERITA RAKYAT DI BOVEN DIGOEL YANG TIDAK PERNAH ADA DALAM KENYATAANNYA...

Demikianlah perubahan ini dibuat bukan karena adanya tekanan ataupun permintaan dari pihak pihak tertentu tapi semata mata sebagai usul saya pribadi ke produser karena saya tidak menginginkan terjadinya adu domba diantara masyarakat Papua. 
(saya melihat mulai terjadi pro dan kontra akibat membaca tulisan2 diberbagai media. ada yang protes film ini tetapi ada juga yang membela dan marah ke orang yg protes dan itu semua terjadi sesama anak Papua sendiri)

bagi saya tidak papa lah saya mengorbankan karya saya kali ini untuk dirubah atau diacak acak editingnya lagi, yang penting adalah kedamaian di Papua itu yang saya inginkan. karena itu saya akan segera membuat film lainnya yang lebih baik lagi supaya kita tidak terjebak pada potensi konflik horizontal yang diinginkan pihak pihak tertentu.



NEW DIRECTORS NOTE

Film ini akhirnya bisa ditonton setelah melalui berbagai rintangan mulai semenjak pertama kalinya dimasa pra produksi hingga akan tayang dan sudah tayang sekalipun masih saja mengalami rintangan sejak Mei 2010 - Maret 2011

dalam masa pra produskinya di awal awal kami sempat mengalami banyak hambatan, yang mengakibatkan banyak uang yang terkuras sia sia begitu saja keluar tanpa bisa dipertanggung jawabkan. hal ini juga mengakibatkan terjadinya pergantian Pimpro sebanyak 2 kali dengan kasus yang hampir sama. di kasus yang kedua malahan film sempat akan dihentikan. saya sempat menarik idenya kembali dan semua kegiatan kantor dibekukan. setelah situasinya kondusif barulah produser kembali menghubungi saya untuk meminta meneruskan proyek yang sempat dibekukan tersebut.

setelah itu segala proses hingga syuting dijakarta berjalan lancar dan tanpa kendala lagi.

kendala besar mulai datang lagi ketika tim sudah berada di Merauke. tidak disangka sangka, peralatan syuting kami tertahan sampai 4 hari di Makassar. alasannya pada saat itu pesawat semua di prioritaskan memuat bahan bantaun buat korban gempa wasior. Produser serta artis jadi stress. bagaimana tidak, artis hanya punya waktu 20 hari tidak bisa ditambah sementara produser jelas tekor karena bayaran alat tetap terhitung rugi selama 5 hari itu tanpa digunakan sama sekali !
hal itu kemudian memicu perpecahan dikalangan kru terutama kru jakarta dan kru yang dari merauke. saling berprasangka buruk pun datang.

akhirnya ketika alat syuting tiba juga, kami pun bisa mengadakan syuting dalam keadaan schedule yang berantakan. astrada harus memutar otak untuk mereschedule lagi jadwal artis yang sangat mepet. selain itu masalah demi masalah kembali berdatangan, disaat kru dari jakarta ada sebagian bermasalah dengan beberapa kru dari merauke.
kendala kendala itu banyak berdampak pada penata kostum, penata artistik serta astrada sendiri dalam menentukan pemain asli Papua.

ya dalam hal pemain memang sebelumnya Merauke Enterprice sudah mengadakan casting yang memilih ratusan orang untuk ikut bermain. diluar dugaan ternyata terjadi masalah lagi ketika menjelang hari H. beebrapa pemain mengancam mundur jika honor mereka tidak dibayar sesaui permintaan mereka. itulah yang kembali membuat produser pusing. bagaimana tidak, sebelumnya kami menstandarisasi pembayaran honor figuran maupun peran pembantu seperti layaknya bayaran pemain di jakarta. namun apa daya ketika semuanya sudah siap, para pemain justru meminta bayaran yang sesuai permintaan mereka dan bukan seusai standart. misalnya saja jika dijakarat biasanya figuran yang lewat dibackground akan dibayar 50 rb sampai 75 rb sehari maka disini mereka meminta untuk dibayar 1 juta sampai 1 setengah juta sekali main.
negosiasi pun berlangung alot. masalahnya film ini melibatkan ratusan figuran. dengan harga figuran seperti itu tentu produser akan sangat keberatan. akhirnya negosiasi pun berhenti pada titik win win solution yang tetap membela para pemain. mereka hanya diturunkan setengah dari harga tawar mereka. itupun menyebabka ada beberapa pemain yg bagus terpaksa mundur dan diganti secara mendadak. 
ya itulah pengalaman bahwa jangan pernah menyamakan jakarta dengan Papua. disana harag barang memang tinggi makanya tidak heran harga pemain pun beda.

banyak masalah terus berlanjut disaat kami syuting dalam hutan, para kru jakarta merasa tidak cocok dengan makanan apa adanya karena posisi kita ditengah hutan. ditambah lagi banyak kru yang stress ingin balik kejakarta setelah sempat diserang isu terkena suanggi akibat salah menginjak patok halaman orang. fanny pun sempat terkena gatal gatal dan merah merah disekujur tubuh bersama kru lainnya. untunglah setelah itu kami meminta diupacarai adat agar semuanya terhindar dari musbah. ketua adat kampung yanggandur pun mengadakan acara adat penyambutan.
namun kondisi beberapa kru jakarta yang stress dan semakin membuat perpecahan dengan kru merauke makin memperburuk kinerja dilapangan. apalagi beberapa kru termasuk fanny pun terserang malaria yang sempat menghambat proses syuting lagi.

sebagai sutradara saya akui semenjak kejadian demi kejadian yang membuat pencapaian artistik, kostum serta kamera menjadi lemah sejak saat itu saya hanya fokus pada pengarahan 2 pemain utamanya saja. saya fokuskan diri saya untuk mengontrol emosi dan akting Fanny serta Fauzi. sebab itulah kekuatan satu satunya yang bisa saya harapkan disaat tidak bisa berharap dari yang lainnya. syukurlah setelah melalui proses editing akting keduanya sesuai harapan. bahkan saya sangat kagum dengan Fauzi yang berhasil memainkan perannya sesuai dengan yang saya inginkan. kalau ada yang menyangka fauzi tidak berakting berarti mungkin dia telah tertpu dengan akting natural antagonis ala fauzi yang dibangun tidak mudah. kadang sebelum berakting, fauzi butuh waktu bahkan bisa selama 1 jam untuk menyendiri dan membangun emosi karakternya agar tetap konsisten, dia juga meminta ke saya agar selalu mengontrol karakternya agar jangan berubah sedikitpun. hasil itu tidaklah sia sia ketika penonton yang melihat kemunculannya menjadi selalu benci ketika dia muncul memang itu tujuannya. kami memang bertujuan membuat sebal penonton dan membuat semua terganggu dengan karakternya yang bajingan.

saya hanya sedikit menyesal karena tidak sempat mengontrol akting para pemain asal papua. semuanya saya serahkan pada astrada saya. terutama untuk karakter Merry yang menjadi sahabat Nadia saya benar benar lost control ke dia makanya saya sangat tidak heran jika karakternya akhirnya tidak berhasil membuat film hidup.

rintangan alam pun jadi bagian yang menghiasi film ini, kendati sudah dilindungi oleh pawang hujan setempat, namun hujan deras tetap menghantam kami setiap hari. bahkan ada beberapa hari yang kami hanya sempat mengambil 1 shot kemudian hanya berteduh seharian.
inilah yan kemudian membuat astrada saya panik sebab schedule artis tetap tidak bisa diperpanjang apapaun alasannya. kami terpaksa mengambil beberapa adegan dengan sangat terburu buru seperti layaknya sinetron stripping. apa boleh buat daripada tidak terambil sama sekali. bahkan ketika fanny tinggal sejam lagi akan berangkat pun kami masih mengadakan syuting dengan terburu buru.
saya kemudian sempat curhat pada Fauzi bahwa tentu film ini tidak akan terlalu maksimal secara tekhnis mengingat waktu yang sangat terbatas. bayangkan saja ketika orang hollywood membuat sebuah film tentu satu adegan saja membutuhkan waktu lama. misalnya saja film merantau yang membuat adegan ending di container saja selama 10 hari lebih.
jadi jangan pernah membandingkan film ini kelak dengan film film itu begitu kata saya.

apalagi untuk cinematografi, kami mengambil syuting alam serta perjalann ke boven digoel ketika lensa film telah dibawa pulang ke jakarta. kru yang membawa lensa mendadak ngambek dan tidak mau meneruskan syuting dengan alasan sudah ada dedline dijakarta. kami terpaksa mengadakan syuting tanpa lensa film jadi jangan heran jika cinematografinya menajdi tidak maksimal.

rintangan terus berlanjut ketika film dimeja editing, dibidang promosi sampai harus mengganti orang juga. hingga ketika akan dicetak di Thailand pun masih ada saja rintangan yang harus dilewati dan susah payah mencarikan solusinya yang mengakibatkan film terpaksa kami rubah ke warna klasik kemerah merahan atau ada yg bilang kayak film warkop.

yang paling membuat syok lagi ketika kami sudah lega setelah film jadi dan siap tayang, ternyata masih saja terjadi rintangan di LSF. lembaga sensor menahan surat ijin tayang filmnya sehingga launching yang rencananya akan diadakan untuk wartawan pagi 8 maret terpaksa ditunda. wajarlah kalau fanny jadi menangis waktu itu mengingat perjuangan yang berat penuh rintangan hingga penayangan ini.

lalu setelah akhirnya LSF mengeluarkan juga surat itu setelah diberi jaminan oleh Plt. Bupati Boven Digoel, ternyata rintangan tidak berhenti sampai disitu.film Lost in Papua masih saja di buat pro dan kontra oleh pihak pihak yang mempolitisasi adegan adegan film ini.
bahkan LMA Jayapura juga sampai ikut berbicara akibat membaca beberapa pemberitaan dimedia yang dinilai telalu menonjolkan sisi negatif padahal LMA merauke sendiri tidak masalah. hingga saat ini nasib film ini pun masih terkatung katung dibawah pro dan kontra orang orang yang terlalu menafsirkan persepsi mereka secara berlebihan dan menuding secara negatif bernuansa politik.

saat ini saya memilih No Comment untuk semua hal mengenai film ini. ini adalah bentuk kekecewaan saya disaat niat baik saya ditafsirkan negatif oleh sebagian orang.
kemarin2 saya sangat senang bisa membaca review2 sesadis apapun bahkan membalasnya. tetapi ketika ada tulisan yang berbau politis saya langsung kecewa.

ada yang mencoba membawa film ini ke politisasi negatif, yang bisa memprovoksi rakyat papua sendiri maka saya memutuskan tidak akan mengurusi itu lagi. bagi saya lebih penting kedamaian rakyat papua daripada harus membuat filmnya sukses karena pro dan kontra. mengapa saya sangat kesewa ? sebab niat baik saya telah salah ditafsirkan bahkan sesuatu yang berusaha saya buat positif malah diputar balikkan menjadi negatif dengan cara menggeneralisir pemahaman. dan sakitnya lagi kog sampai ada yang membawa bawa isu ras dalam menafsirkan film ini ? apakah mereka lupa kalau yang membuat ini anak kelahiran Papua juga yang tidak mungkin akan pernah merendahkan Papua ? 
semoga kita semua tidak mudah terprovokasi dengan pihak pihak yang telah menunggangi film ini secara politis.
kenapa saya lebih baik diam ? sebab jika menanggapi maka kita rakyat papua sendiri yang akan diadu domba. rakyat merauke sangat mendukung film ini sementara diluar merauke diprovokasi untuk menolak. akhirnya yang rugi kita sendiri sesama anak papua diadu domba.

saat ini saya lebih memfokuskan diri untuk segera menggarap film melody kota rusa 2 yang diharap2kan banyak orang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar