Sabtu, 05 Maret 2011

Seorang Bayi Laki-laki di Grobogan Lahir dengan Otak Terburai

Seorang Bayi Laki-laki di Grobogan Lahir dengan Otak Terburai

Grobogan - Seorang bayi berjenis kelamin laki-laki terlahir dengan otak terburai keluar atau Meningocefalocele di RSUD Dokter Soedjati, Grobogan, Jawa Tengah. Bayi itu kini hanya dapat diselamatkan melalui operasi pembedahan kepala.

Pasangan Paryadi dan Susilowati hanya dapat berharap dan berdoa agar bayi yang baru dilahirkan Susilowati dapat diselamatkan dari maut. Kepasrahan pasangan asal Desa Randu, Kecamatan Geyer, Grobogan, Jawa Tengah itu cukup beralasan, pasalnya, bayi mereka berjenis kelamin laki-laki terlahir dengan bagian otak kepala terburai keluar atau lebih dikenal dengan istilah Meningocefalocele.

"Kami tidak dapat berbuat apa-apa, hanya allah yang bisa menyelamatkan putra kami," papar Paryadi, Senin (28/2/2011) saat ditemui di rumah sakit.

Menurut Paryadi, istrinya melahirkan putra pertamanya itu sekitar tiga belas hari lalu secara normal. Selama proses kehamilan tidak ada tanda-tanda Susilowati akan melahirkan anak dalam kondisi otak terburai. "Semua normal dan lancar, kami baru tahu anak kami tidak normal sesaat setelah dilahirkan," ungkapnya.

Susilowati sendiri tidak dapat berkomentar banyak terkait kelahiran putranya itu, saat ini Susilowati lebih banyak menghabiskan waktunya untuk melihat bayinya di ruang perawatan bayi, ruang Cempaka, RSU Dokter Soedjati, Purwodadi, Grobogan, Jawa Tengah.

Sementara itu, Dokter Spesialis Anak RSU Dokter Soedjati, Muhadjir menjelaskan, hanya ada satu cara untuk dapat menormalkan kembali kondisi bayi tersebut. "Satu-satunya jalan adalah operasi bedah kepala," jelasnya.

Menurut Muhadjir, kelainan yang dialami bayi pasangan Paryadi dan Susilowati terjadi akibat adanya kelainan sejak lahir yang disebabkan beberapa faktor yang dialami ibu bayi selama mengandung janin.

Sejauh ini, belum ada keputusan dari keluarga Paryadi untuk melakukanb operasi pembedahan kepala bayinya, karena Paryadi mengaku tidak mampu membiayai ongkos operasi. "Saya cuma bekerja sebagai buruh serabutan, kadang ada uang buat makan, kadang ngutang, bagaimana saya bisa membayar biasa operasi,"keluh Paryadi.

Saat ini tidak ada yang dapat dilakukan Paryadi selain hanya berharap pemerintah setempat mau peduli dan membantu biaya operasi bayinya. (baw/baw) 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar