Jumat, 11 Maret 2011

Koran Australia Sebut SBY Salah Gunakan Kekuasaan

Jumat, 11/03/2011 08:33 WIB
Jakarta - Kunjungan Wapres Boediono di Australia pekan ini sungguh tidak menyenangkan. Dia disuguhi headline koran The Age berjudul "Yudhoyono Abused Power'.

Koran edisi Jumat 11 Maret 2011 memberitakan tentang penyalahgunaan kekuasaan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Tidak hanya itu, koran yang mengambil bahan berita dari kawat diplomatik Wikileaks itu, juga membeberkan korupsi penting SBY.

Seperti detikcom dikutip The Age, kawat diplomatik itu menyebutkan secara personal SBY telah mengintervensi dan mempengaruhi jaksa dan hakim untuk melindungi tokoh politik yang melakukan korupsi. SBY disebutkan juga menggunakan intelijen negara untuk memata-matai rival politiknya.

Kabel itu juga menceritakan secara detail bagaimana mantan wakilnya untuk membayar jutaan dollar untuk mengontrol partai terbesar di Indonesia saat itu. Kabel juga menyebutkan istri presiden dan keluarganya memperkaya diri melalui koneksi politiknya. 

Tak urung, artikel itu menjadi perbincangan panas di Tanah Air. Kelas menengah ramai mengobrolkannya lewat media sosial Twitter sedari pagi.
(lrn/nrl)


Sumber:



Buat yg males baca

Ringkasan :

1. Taufik Kemas korupsi saat istrinya menjabat........dan diselamatkan SBY

2. Jusuf Kalla beli kursi golkar seharga Rp 60 milyar, dibantu agung laksono

3. Pendukung Gus Dur menyuap hakim Rp 3 miliar utk memenangkan kasus PKB

4. Kepala Bin melaporkan bahwa Wiranto itu berotak Teroris (terorist mastermind)

5. BIN pernah disuruh utk memata matai Yusril , sehubungan dg (dugaan) korupsinya

6. Tommy Winata menyumbang ke SBY melalui M. Luthfi dan TB Silalahi

7. SBY mengeluhkan kegagalannya membangun usaha sbg warisan ke anak cucu

8. Tommy Winata dekat dengan Bu Ani

plis CMIIW



nih link PDFnya buat yang pengen baca versi aslinya





Jusuf Kalla Akui Bocoran Wikileaks Benar 
Jum'at, 11 Maret 2011 | 09:42 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta - Bekas Wakil Presiden Jusuf Kalla mengakui kebenaran berita yang dilansir dua koran Australia, The Age dan Sidney Morning Herald, hari ini. Dua koran itu menyebut Kalla menyebar uang saat terpilih sebagai Ketua Partai Golongan Karya pada Musyawarah Nasional Partai Golkar di Bali pada 2004. Berita itu bersumber dari dokumen WikiLeaks yang mengutip laporan kawat diplomati Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta ke Washington.

“Ya, sekitar Rp 2 sampai Rp 3 miliar lah,” kata Jusuf Kalla, kepada Tempo, Jumat, 11 Maret 2011.

Menurut Kalla, uang itu digunakan untuk membayar tiket pesawat pengurus Golkar dari pusat dan daerah. Ia memperkirakan ada tiga ribu orang yang dibayari tiketnya. Kalla juga mengaku membayar hotel tempat berlangsungnya Musyawarah Nasional Golkar itu.

Ia mengatakan sudah menjadi kebiasaan calon ketua yang terpilih Partai Golkar untuk membayari tiket pesawat dan hotel. “Hampir semua partai juga begitu,” ujarnya. “Itu bukan rahasia lagi.”

Kalla mengaku uang itu berasal dari kantongnya sendiri. “Jadi bukan korupsi,” tuturnya.

Nama Jusuf Kalla ikut disebut Wikileaks yang dikutip koran Australia The Age berjudul "Yudhoyono Abused Power'. Disitu, Kalla disebut ikut memberikan suap untuk mendapat kursi pimpinan Golkar.

The Age edisi Jumat 11 Maret 2011 menyebutkan, Kedubes AS melaporkan Jusuf Kalla membayar suap besar untuk memenangkan kepemimpinan Golkar, salah satu partai terbesar di Indonesia. itu dilakukan saat Munas Partai Golkar, Desember 2004. Disebutkan disitu, Kalla mengeluarkan uang jutaan dollar untuk mendapatkan akses mengontrol Partai Golkar.

"Sumber yang dekat dengan kandidat utama, tim Kalla menawarkan dewan daerah Rp 200 juta (lebih dari US$ 22.000) kepada pemilihnya," begitu The Age.

Diplomat Amerika, seperti dikutip WikiLeaks dan dilansir The Age, menyebut 243 suara diperlukan untuk mendapatkan suara mayoritas sehingga calon ketua umum Golkar harus merogoh US $ 6 juta. Bahkan juga disebut, Agung Laksono, Wakil Ketua Umum Partai Golkar yang juga Ketua DPR waktu itu, ikut mengalokasikan Rp 50 miliar lebih di even itu.

WDA | SUTARTO

Sumber:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar